unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Merger Waskita dan Wika Ditunda, Danantara Fokus Benahi Utang
News

Merger Waskita dan Wika Ditunda, Danantara Fokus Benahi Utang

Ilustrasi proyek konstruksi BUMN Karya Indonesia
Merger Waskita dan Wika Ditunda, Danantara Fokus Benahi Utang
A A Ukuran Teks16px

Danantara Indonesia memutuskan menunda penggabungan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Restrukturisasi keuangan kedua perusahaan dinilai masih membutuhkan waktu lebih panjang.

Keputusan itu disampaikan COO Danantara Indonesia Dony Oskaria di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, kondisi keuangan Waskita dan Wika lebih berat dibanding empat BUMN Karya lain yang lebih dulu diproses untuk merger.

Danantara menargetkan penggabungan PT Nindya Karya dengan PT Brantas Abipraya (Persero) rampung paling lambat November 2026.

Target serupa berlaku untuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT PP (Persero) Tbk.

Dony menegaskan Danantara tidak ingin menunggu restrukturisasi Waskita dan Wika selesai sebelum melanjutkan merger perusahaan lain.

"Ini sedang kita bereskan yang Waskita dan Wika, tetapi kita enggak bisa menunggu, jadi yang merger dulu yang Nindya dan Brantas sama Adhi dan PP," ujarnya.

Utang Wika Rp 34 Triliun Jadi Sorotan

Untuk Wika, Dony menyoroti besarnya utang yang belum didukung aset atau underlying yang memadai. Nilai utang Wika disebut sekitar Rp 34 triliun.

"Contoh Wika. Wika ini utangnya kan besar, tapi underlying-nya nggak cukup untuk menurunkan utang.

Kurang lebih utang Wika itu Rp 34 triliun," kata Dony.

Menurut Dony, restrukturisasi Wika tidak cukup hanya dengan memperpanjang tenor pembayaran. Danantara masih menilai arah bisnis perusahaan agar persoalan keuangan tidak kembali muncul.

"Waktu kita merestrukturisasi, saya tidak mau hanya asal-asal dikumpulin terus kemudian ditarik 30 tahun, 40 tahun, enggak ada gunanya.

Nanti akan menjadi problem lagi," ujarnya.

Danantara masih mengkaji secara menyeluruh bentuk penataan bisnis Wika sebelum restrukturisasi dituntaskan. Dony menyatakan perbaikan harus tuntas dan tidak setengah-setengah.

"Kita mesti betul-betul melihat ini mesti diapain perusahaan ini. Karena arahnya Pak Presiden sekali kita melakukan perbaikan itu harus tuntas.

Kita enggak mau setengah-setengah hanya poles-poles, itu enggak ada gunanya," paparnya.

Pada Waskita, kajian Danantara juga mencakup struktur bisnis perusahaan. Termasuk keberlanjutan bisnis jalan tol yang dimiliki melalui Waskita Toll Road.

"Kita lagi melihat apakah nanti yang akan bertahan tolnya aja. Ini kan pertimbangannya enggak bisa asal-asalan.

Saya orangnya mesti teliti satu-satu, dilihat lagi future-nya akan kayak gimana dan sebagainya," pungkas Dony.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru