Penggunaan bahan bakar gas (BBG) menjadi salah satu opsi bagi pemilik mobil yang ingin menekan biaya operasional tanpa beralih ke kendaraan listrik.
Namun, biaya awal konversi dari bensin ke gas perlu dihitung matang sebelum memutuskan mengganti sistem bahan bakar.
Pengalaman Tri, pemilik Wuling Cortez keluaran 2022, menunjukkan total pengeluaran untuk konversi bisa mencapai Rp 22 juta hingga Rp 23 juta.
Biaya sebesar itu tidak dikeluarkan sekaligus, melainkan melalui pemasangan komponen secara bertahap.
Tri awalnya hanya memasang satu tabung gas, lalu menambah kapasitas penyimpanan setelah menilai kebutuhan perjalanan hariannya.
Jarak rumahnya ke stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) terdekat sekitar 20 km.
Kondisi itu membuat satu tabung dinilai kurang memadai, sehingga ia memutuskan menambah tabung agar tidak terlalu sering mengisi gas.
Tri menyebut total biaya pemasangan bergantung pada tahapan pengerjaan yang dilakukan.
"Rp 20 juta lebih sih, Rp 22 juta, Rp 23 juta. Tergantung juga, soalnya kemarin saya bertahap.
Enggak langsung pasang dua (tabung)," ujar Tri saat dihubungi Kompas. com.
Pada sistem yang digunakan di Wuling Cortez 2022 miliknya, dua tabung memiliki kapasitas masing-masing 16 liter dan 12 liter.
Penempatan tabung di ruang bagasi membuat sebagian ruang penyimpanan barang tidak lagi bisa digunakan secara leluasa.
Pilihan tabung memengaruhi total biaya
Selain jumlah tabung, calon pengguna BBG perlu memperhatikan bahan dan tipe tabung yang dipilih.
Perbedaan konstruksi tabung dapat memengaruhi harga komponen, sehingga pilihan tersebut menjadi salah satu faktor dalam menghitung kebutuhan dana konversi.
Tri menggunakan tabung tipe 4 berbahan komposit.
Ia menjelaskan perbedaan tipe tabung berdasarkan material pembuatannya dan menyebut pilihannya termasuk kategori dengan harga paling tinggi.
"Tabung itu ada 4 tipe, tipe 1 yang besi, tipe 2 besi plus campuran, tipe 3 itu apa.
Saya pakai tipe 4, komposit, mungkin sekitar 20 kiloan kali ya," ujar Tri.
Ia juga membandingkan harga tabung komposit dengan tabung berbahan besi yang lebih sederhana.
"Kalau tabung tipe 1 kan dari besi, jadi lebih murah. Tabung tipe 4 itu paling mahal," kata Tri.
Perangkat konversi tidak hanya terdiri atas tabung penyimpanan.
Sistem tersebut memerlukan komponen pendukung untuk menyalurkan bahan bakar dan menyesuaikan karakter pembakaran mesin dengan penggunaan gas.
Karena itu, biaya keseluruhan tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan jumlah tabung.
Jenis perangkat, kebutuhan pemasangan, serta kesesuaian komponen dengan kendaraan turut menjadi pertimbangan sebelum pekerjaan dilakukan.
Pengeluaran awal perlu dibandingkan dengan selisih biaya bahan bakar yang berpotensi dihemat setiap bulan.
Kendaraan dengan jarak tempuh lebih tinggi memiliki peluang penghematan lebih besar apabila perbedaan biaya antara bensin dan BBG cukup signifikan.
Meski demikian, besarnya biaya pemasangan membuat waktu pengembalian modal perlu dihitung secara cermat.
Penggunaan BBG tidak otomatis membuat biaya konversi kembali dalam waktu singkat.
Untuk memperkirakan waktu balik modal, pemilik kendaraan perlu mengumpulkan data pengeluaran bensin sebelum konversi, biaya BBG dan bensin setelah perubahan, serta jarak tempuh kendaraan setiap bulan.
Biaya perawatan tambahan juga perlu dimasukkan ke dalam perhitungan.
Perbandingan tersebut membantu calon pengguna menilai apakah penghematan operasional yang diperoleh sebanding dengan investasi awal.
Hasilnya akan bergantung pada pola pemakaian kendaraan dan selisih pengeluaran bahan bakar setelah konversi.
Sebelum mengubah sistem bahan bakar mobil, calon pengguna sebaiknya meminta rincian biaya komponen dan jasa pemasangan dari bengkel konversi.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk membandingkan kebutuhan dana serta mempertimbangkan kapasitas tabung, bobot, standar keselamatan, dan kesesuaian perangkat dengan kendaraan.
