unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Belanja Eksplorasi Emiten Tambang Naik, Cadangan Jadi Taruhan
News

Belanja Eksplorasi Emiten Tambang Naik, Cadangan Jadi Taruhan

Ilustrasi kegiatan eksplorasi tambang
Belanja Eksplorasi Emiten Tambang Naik, Cadangan Jadi Taruhan
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah emiten pertambangan dan minyak dan gas bumi menggenjot belanja eksplorasi guna menjaga kesinambungan produksi serta memperpanjang usia tambang dan lapangan migas.

Langkah ini ditempuh meski pengeluaran eksplorasi dapat menekan arus kas pada periode awal.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menjelaskan bahwa manfaat eksplorasi bergantung pada keberhasilan menemukan sumber daya, biaya yang dikeluarkan, serta kemampuan perusahaan mengubah sumber daya menjadi cadangan ekonomis.

"Dalam jangka pendek, pengeluaran ini dapat menekan arus kas, tetapi dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan cadangan, produksi, dan laba," kata Sukarno kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).

Sepanjang 2026, beberapa perusahaan telah menyiapkan dana untuk kegiatan eksplorasi.

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mengeluarkan US$ 8,5 juta untuk eksplorasi selama Januari hingga September 2026.

Di periode yang sama, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat biaya eksplorasi Rp 34,9 miliar pada kuartal III 2026.

Perusahaan lain di sektor tambang juga melakukan pengeluaran serupa.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) membukukan biaya eksplorasi Rp 6,51 miliar.

Sementara PT Indika Energy Tbk (INDY) mengalokasikan Rp 15,57 miliar dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat Rp 7,86 miliar.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjalankan aktivitas eksplorasi melalui sejumlah anak usaha.

Pada sektor migas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengalokasikan sekitar Rp 38,56 miliar untuk pengeboran sumur pengembangan dan eksplorasi.

Realisasi manfaat eksplorasi tetap menghadapi berbagai tantangan.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA), misalnya, masih mengalami hambatan perizinan dalam kegiatan eksplorasi tembaga di proyek Upper Tengkereng.

Menurut Sukarno, hambatan perizinan dapat membuat jadwal eksplorasi bergeser dan memperpanjang waktu perusahaan memperoleh manfaat ekonomi.

Risiko teknis, kebutuhan pendanaan, serta volatilitas harga komoditas juga menjadi faktor yang diperhatikan hingga 2027.

"Kami melihat prospek eksplorasi hingga 2027 tetap positif bagi emiten dengan kualitas aset dan prospek komoditas yang mendukung.

Namun, realisasi manfaatnya berpotensi tertunda akibat kendala perizinan, risiko teknis, kebutuhan pendanaan, dan volatilitas harga komoditas," ujarnya.

Dari sejumlah perusahaan yang melakukan eksplorasi, Sukarno menyoroti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

ARCI dan BRMS dinilai menarik karena memiliki potensi pertumbuhan produksi emas.

Sementara ENRG disebut berpeluang mendapatkan manfaat dari pengembangan aset migas yang dimiliki perusahaan.

Meski demikian, besarnya belanja eksplorasi tidak otomatis menunjukkan peningkatan kinerja keuangan.

Investor perlu memperhatikan tambahan cadangan terverifikasi, perkembangan produksi, serta kontribusi proyek terhadap arus kas perusahaan.

"Kami menilai ARCI dan BRMS menarik dari sektor emas, sementara ENRG berpotensi memperoleh manfaat dari pengeboran sumur pengembangan migas," kata Sukarno.

Untuk sektor batubara, ITMG dinilai dapat dicermati dari sisi kesinambungan operasional dan arus kas.

GEMS dan INDY juga berupaya menjaga keberlanjutan cadangan serta kegiatan operasional tambang.

Kiwoom Sekuritas menetapkan rekomendasi untuk ARCI dengan target harga Rp 1.470 per saham.

BRMS memiliki target harga Rp 630 per saham, sedangkan ENRG sebesar Rp 1.030 per saham.

Adapun ITMG mendapatkan target harga Rp 30.600 per saham dari Kiwoom Sekuritas.

Penilaian tersebut diberikan berdasarkan prospek masing-masing perusahaan yang melakukan kegiatan eksplorasi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru