Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melakukan inspeksi mendadak ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cadek, Baitussalam, Banda Aceh, pada Rabu.
Dalam kunjungan itu, ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), ketepatan data penerima manfaat, serta pengukuran hasil program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sudaryono meninjau sejumlah bagian fasilitas, mulai dari ruang persiapan, ruang produksi, ruang penyimpanan, hingga ruang pemorsian.
Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan fasilitas dan operasional pelayanan makanan bergizi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala BGN menjelaskan bahwa kunjungan itu juga untuk memberikan dukungan kepada petugas, bukan sekadar mencari kekurangan.
"Saya datang ke sini bukan untuk marah-marah, melainkan untuk memastikan, menyemangati kamu (kepala SPPG) dan pasukan kita semua yang ada di seluruh Indonesia," ujar Sudaryono.
Validitas Data Penerima Manfaat
Selain mengevaluasi fasilitas, Sudaryono menyoroti pentingnya kecocokan data sekolah penerima manfaat dengan informasi yang tercatat dalam sistem.
Menurut dia, sekolah harus memiliki nomor induk yang sesuai agar dapat dilayani melalui Program MBG.
Ia menjelaskan bahwa sekolah negeri dan swasta perlu memperbarui nomor induk sekolah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sementara itu, madrasah dan pondok pesantren harus mengurus pembaruan data melalui Kementerian Agama.
"Ada sekolah-sekolah yang belum ada nomor induk sekolahnya, ya kita enggak bisa layani, dia harus update nomor induk sekolahnya, kalau dia di sekolah negeri atau swasta ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kalau madrasah atau pondok pesantren ke Kementerian Agama," papar Sudaryono.
Menurut Sudaryono, kelengkapan data diperlukan untuk mendukung pemantauan pelaksanaan MBG sekaligus mengukur manfaatnya bagi peserta didik.
Evaluasi tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan gizi, perkembangan fisik, serta indikator lain yang berkaitan dengan aktivitas belajar di sekolah.
Ia menyebut berat badan dan tinggi badan sebagai indikator yang perlu diperhatikan dalam menilai perkembangan penerima manfaat.
Kehadiran siswa di sekolah juga menjadi salah satu ukuran untuk melihat hasil pelaksanaan program.
"Karena dampak yang kita inginkan adalah perbaikan gizi dan pertumbuhan yang baik, dilihat secara fisik, berat badan, tinggi badan, termasuk juga ada output termasuk kehadiran (di sekolah)," kata Sudaryono.
Untuk menggambarkan perubahan yang dapat diamati, Sudaryono menceritakan kunjungannya ke sebuah sekolah di Palembang, Sumatera Selatan.
Berdasarkan pengalamannya, tingkat kehadiran siswa di sekolah tersebut meningkat setelah Program MBG diterapkan.
"Saya pernah datang di satu sekolah di Palembang, itu tingkat kehadirannya sekitar 60-an persen. Setelah ada MBG, tingkat kehadirannya naik 95 persen.
Jadi, ini ada dampak, ada output (manfaat) dan hasil yang baik, gitu," tutur Sudaryono.