Microsoft Surface Laptop Ultra resmi meluncur sebagai laptop flagship dengan spesifikasi kelas atas. Perangkat ini mengandalkan prosesor Nvidia RTX Spark N1X dan RAM 64 GB.
Layar Mini-LED 15 inci dengan aspek rasio 3:2 menjadi salah satu nilai jual utama.
Resolusi tinggi, refresh rate 120 Hz, dan kecerahan puncak 2.000 nits terdengar impresif di atas kertas.
Namun pengujian teknis independen justru mengungkap hasil sebaliknya. Layar yang seharusnya menjadi keunggulan malah berubah menjadi titik lemah paling mencolok.
Ghosting dan Response Time Lambat
Masalah pertama yang langsung terasa adalah efek ghosting yang kasat mata. Jejak bayangan ini tetap terlihat jelas bahkan saat layar diatur pada mode 120 Hz.
Penyebab utamanya adalah response time lambat pada panel IPS dasar yang digunakan. Layar Mini-LED memang masih memakai struktur panel IPS konvensional, dengan dioda Mini-LED sebagai sistem backlight.
Kombinasi refresh rate tinggi dan piksel yang lambat bertransisi menciptakan ketidakseimbangan visual. Saat menggulir dokumen panjang atau memutar video cepat, objek di layar meninggalkan jejak membayang.
Bagi laptop workstation berperforma tinggi, kendala ini jelas mengurangi kenyamanan navigasi harian.
Local Dimming Tidak Aktif, Hitam Jadi Keabu-abuan
Kelemahan krusial kedua adalah ketiadaan atau tidak aktifnya fungsi local dimming. Padahal, fitur inilah yang menjadi keunggulan utama teknologi Mini-LED dibanding LED standar.
Local dimming memungkinkan ratusan hingga ribuan zona pencahayaan dimatikan secara individual. Hasilnya, warna hitam pekat sempurna dan rasio kontras tinggi bisa dicapai.
Dalam pengujian Surface Laptop Ultra, sistem tidak menyediakan opsi untuk mengaktifkan modulasi tersebut. Layar pun berperilaku seperti panel IPS biasa dengan backlight yang terus menyala.
Dampaknya, area gelap pada layar terlihat cenderung keabu-abuan. Kontras warna merosot drastis, termasuk saat memutar konten HDR.
Dengan harga di segmen premium, dua masalah ini membuat kualitas visual Surface Laptop Ultra berada di bawah ekspektasi.
Kecerahan 2.000 nits ternyata tidak otomatis menjamin pengalaman menonton yang memuaskan.
