Christopher White, chancellor pertama Chowan University, menerima gelar Doctor of Education kehormatan dari Seoul Cyber University (SCU). Penghargaan itu diberikan di kampus SCU di Distrik Gangbuk, Seoul, Kamis.
White menilai gelar tersebut sebagai peristiwa penting dalam hidupnya. Ia menyebutnya sebagai buah dari persahabatan, dukungan, dan pemahaman internasional yang terbangun selama bertahun-tahun.
"Saya sangat senang dengan pertumbuhan universitas ini dari awal yang sederhana menjadi kekuatan intelektual," kata White.
Hampir Lima Dekade di Dunia Pendidikan
Hampir lima dekade berkarier di pendidikan tinggi, White berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan harus membuka peluang bagi semua orang.
Peluang itu, menurutnya, tidak boleh dibatasi latar belakang maupun kondisi keuangan seseorang.
Pandangan itu tumbuh sejak masa kecilnya di sebuah kota kecil di Georgia, Amerika Serikat.
Ia anak seorang pemilik usaha kecil dan belajar arti kerja keras, kejujuran, kesopanan, serta menghormati orang lain.
Keluarganya mendorongnya menempuh pendidikan tinggi. "Saya diajari berpikir besar dan mengejar mimpi besar ke mana pun itu membawa saya," ujarnya.
Dukungan tersebut membawanya memulai karier sebagai profesor studi agama. Dari situ ia beralih ke bidang administrasi universitas dan menduduki sejumlah posisi pimpinan senior.
White meraih gelar Ph. D.
bidang agama dari Emory University di Atlanta.
Ia pernah menjabat wakil presiden Elon University, presiden ke-10 Gardner-Webb University, serta presiden ke-22 dan chancellor pertama Chowan University.
Saat ini ia menjabat senior fellow untuk kemitraan internasional di Anderson University.
Hubungan Lebih dari 30 Tahun dengan SCU
Hubungan White dengan SCU sudah terjalin lebih dari 30 tahun.
Semuanya dimulai pada 1995, ketika seorang teman yang menjabat presiden universitas memperkenalkannya kepada Lee Se-ung, ketua kehormatan sekolah tersebut.
Keduanya langsung menemukan kecocokan sebagai sesama Kristen yang menjunjung keluarga dan warisan. Keduanya juga ingin membuka akses pendidikan tinggi seluas mungkin, terutama bagi mereka yang berpenghasilan terbatas.
White mengaku kagum pada visi Lee mengembangkan sekolah menengah yang didirikan ayahnya menjadi universitas pendamping. "Betapa besar visi yang terus ia miliki dan keberanian untuk mewujudkannya," katanya.
Bagi White, relasi jauh lebih penting daripada sekadar pertumbuhan jumlah, mutu, dan keuangan universitas. Bagian paling memuaskan dari pengalamannya sebagai presiden universitas adalah hubungan dengan orang-orang.
Salah satunya kesempatan memberi pendidikan tinggi kepada lebih dari dua lusin mahasiswa Kristen Palestina dari Yerusalem, Bethlehem, dan Ramallah.
Menurut White, mereka berbakat tetapi tidak memiliki sumber daya untuk menempuh pendidikan.
Kini mereka menjadi dokter, ilmuwan, pendidik, dan beragam profesi lain di seluruh dunia.
White juga mengakui bahwa memimpin tidak selalu menyenangkan.
Ia menyebut tiga konsekuensi kepemimpinan, yakni harus mengambil keputusan sulit yang bisa merugikan orang yang disayangi, tidak disukai meski berusaha terbaik, serta kerap disalahpahami tanpa kesempatan membela diri.
Kepada mahasiswa SCU yang kuliah sambil bekerja penuh waktu, White menyampaikan pesan sederhana: hidup itu baik dan setiap hari adalah berkat.
Ia mengaku memilih melihat masalah sebagai peluang.
