Pemilihan umum Israel 2026 berakhir tanpa pemenang yang jelas. Hasil penghitungan yang hampir final menempatkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di depan, tetapi tidak ada satu pun kubu yang meraih mayoritas di parlemen.
Pemilu untuk Knesset ke-26 itu digelar pada 27 Oktober 2026, dan menjadi pemilu nasional pertama Israel sejak serangan 7 Oktober 2023 beserta perang panjang yang mengikutinya. Partisipasinya tercatat mencapai 77,7 persen, tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Berdasarkan hasil penghitungan yang diumumkan Komisi Pemilihan Pusat Israel pada 29 Oktober 2026, blok Netanyahu meraih 53 kursi dari total 120 kursi Knesset. Blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 48 kursi, sementara partai-partai Arab meraih 19 kursi, jumlah gabungan tertinggi dalam sejarah mereka.
Untuk membentuk pemerintahan yang stabil, dibutuhkan 61 kursi. Artinya, blok Netanyahu masih kekurangan delapan kursi, sedangkan blok oposisi kekurangan tiga belas kursi. Partai Likud pimpinan Netanyahu tetap menjadi partai tunggal terbesar dengan 26 kursi, diikuti partai Yashar pimpinan Eisenkot dengan 21 kursi.
Apa yang terjadi selanjutnya
Hasil resmi final dijadwalkan diumumkan pada 4 November 2026, dan angka-angka saat ini masih bisa bergeser satu atau dua kursi setelah verifikasi. Selama proses politik berjalan, Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru terbentuk.
Selanjutnya, Presiden Isaac Herzog akan memimpin konsultasi dengan partai-partai untuk menentukan siapa yang mendapat mandat membentuk pemerintahan. Proses ini bisa memakan waktu berminggu-minggu, dan tidak tertutup kemungkinan Israel kembali menghadapi jalan buntu politik bila tidak ada koalisi yang terbentuk.
Posisi partai-partai Arab yang meraih 19 kursi menjadi sorotan tersendiri. Meski berada di luar kedua blok utama, jumlah kursi mereka membuat mereka berpotensi menjadi penentu dalam negosiasi, sekalipun kerja sama koalisi dengan mereka masih menjadi isu yang sensitif secara politik di Israel.
