Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah harganya turun menembus level US$80.000. Pelemahan itu terjadi sehari setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan menahan suku bunga acuannya.
Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 28 Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen. Keputusan itu diambil dengan suara 10 berbanding 2. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, sebenarnya mendukung kenaikan 25 basis poin karena inflasi Amerika Serikat masih dinilai tinggi.
Pasar sebenarnya sudah memperkirakan suku bunga akan ditahan. Namun nada The Fed yang dinilai masih cenderung ketat membuat pelaku pasar berhati-hati. Di sekitar rapat tersebut, Bitcoin bergerak di kisaran US$80.300 hingga US$81.700, lalu pada 29 Oktober 2026 jatuh di bawah US$80.000. Salah satu laporan pasar mencatat penurunan sekitar 1,5 persen ke kisaran US$79.810.
Tekanan terhadap Bitcoin juga tidak lepas dari konteks sebelumnya. Pada 16 September 2026, The Fed justru menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 hingga 4,00 persen. Bagi aset yang tidak memberikan bunga seperti Bitcoin, prospek biaya pinjaman yang tetap tinggi cenderung mengurangi daya tariknya dibanding aset berpendapatan tetap.
Apa yang ditunggu pasar selanjutnya
Pelaku pasar kini menanti data inflasi PCE dan produk domestik bruto Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Kamis malam waktu Indonesia. Kedua data itu bisa menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed berikutnya, termasuk pada rapat 8–9 Desember 2026, di mana pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga yang cukup besar.
Dari sisi teknikal, sejumlah analis pasar menyebut level US$79.700 sebagai penopang terdekat yang diawasi, sedangkan pemulihan yang meyakinkan membutuhkan pergerakan kembali di atas US$82.000. Di sisi lain, arus masuk ke ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat tercatat masih kuat, dengan lebih dari US$423 juta dalam tiga sesi perdagangan, menandakan minat institusional belum surut.
Bagi investor ritel, gejolak seperti ini adalah pengingat bahwa pasar kripto sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada profil risiko masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren pencarian yang sedang ramai.
