unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kurs Rupiah Dibuka Tak Berubah Jelang RDG Bank Indonesia
News

Kurs Rupiah Dibuka Tak Berubah Jelang RDG Bank Indonesia

Kurs Rupiah Dibuka Tak Berubah Jelang RDG Bank Indonesia
Kurs Rupiah Dibuka Tak Berubah Jelang RDG Bank Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah bertahan di Rp17.992 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (21/10/2026). Posisi itu tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) soal suku bunga acuan. Keputusan itu menjadi fokus utama investor di tengah ketidakpastian kebijakan moneter domestik.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah berpotensi melemah pada perdagangan hari ini. Menurutnya, tekanan datang dari antisipasi hasil RDG BI siang nanti.

"Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti," ujar Rully kepada ANTARA.

Rully memproyeksikan bank sentral mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen. Langkah itu dinilai untuk menjaga daya beli masyarakat.

Namun, keputusan BI juga terkait perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan pada 27–28 Oktober 2026.

Jika BI menaikkan suku bunga, menurut Rully, itu mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed menaikkan bunga 25 basis poin menjadi 4,25 persen pada 28 Oktober nanti.

Tekanan Eksternal dan Harga Minyak

Selain suku bunga, harga energi global menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Harga minyak yang tinggi juga menekan negara pengimpor energi, termasuk melalui kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor.

Meski demikian, harga minyak mentah Brent mengalami koreksi pada Selasa (20/10/2026).

Menurut laporan Anadolu yang dikutip ANTARA, Brent turun 3,37 dolar AS per barel atau 3,07 persen menjadi 106,18 dolar AS per barel.

Sebelumnya, Brent sempat mendekati 112 dolar AS per barel.

Meski turun, harganya masih sekitar 6,8 persen lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir 75 persen di atas tingkat pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi eksternal, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah pada Selasa turut dipengaruhi perkembangan kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia.

Keterangannya dikutip VIVA.

Ibrahim menjelaskan bahwa Presiden AS Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif pada Jumat malam (16/10/2026).

Perintah itu mengecualikan sejumlah tarif dan sanksi terkait Rusia, termasuk bea atas barang-barang Rusia serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas dari negara tersebut.

Menurut laporan Anadolu, kebijakan sebelumnya mencakup rencana tarif hingga 500 persen terhadap barang-barang Rusia.

Ketentuan lain mengatur tarif tambahan 100 persen terhadap barang dari lima negara pengimpor terbesar minyak dan gas Rusia jika melakukan pembelian baru pada atau setelah 18 Oktober.

Pengecualian tarif diberlakukan dengan alasan kepentingan nasional AS dan disertai sertifikasi resmi kepada Kongres. Pengecualian berlaku sampai presiden atau menteri luar negeri AS memutuskan tindakan lebih lanjut diperlukan.

Perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Ibrahim menilai ketegangan yang melibatkan Ansarullah Yaman dan Arab Saudi menambah kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan ketersediaan minyak.

"Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas 100 dolar AS per barel," ujar Ibrahim.

Menjelang FOMC, investor mencermati kemungkinan perubahan suku bunga AS.

Sejumlah pejabat Federal Reserve sebelumnya mengisyaratkan keterbukaan terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meski belum memberi sinyal kuat soal kenaikan dalam pertemuan tersebut.

Selama periode tenang sebelum rapat FOMC, pejabat The Fed tidak dijadwalkan menyampaikan pidato.

Namun, data ekonomi AS tetap menjadi perhatian pasar, termasuk klaim tunjangan pengangguran mingguan dan data awal indeks manajer pembelian (PMI) dari S&P Global.

"Namun, sejumlah data ekonomi tetap akan dirilis, seperti data mingguan klaim tunjangan pengangguran, serta data awal (flash) PMI dari S&P Global," ujar Ibrahim.

Dari pasar domestik, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan rupiah menguat ke Rp18.006 per dolar AS pada Selasa.

Sehari sebelumnya, posisinya Rp18.050.

Untuk perdagangan Rabu, Rully memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru