Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (22/10/2026).
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memperkirakan pergerakan rupiah berada di rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.120 per dolar AS.
Proyeksi itu mencerminkan kerentanan sentimen pasar ketika tekanan eksternal beriringan dengan ketidakpastian domestik.
Batas Rp 18.000 per dolar AS menjadi titik psikologis penting dalam pergerakan mata uang domestik.
Persaingan antara permintaan dolar AS dan upaya menjaga stabilitas kurs diperkirakan masih mewarnai perdagangan.
Faktor Eksternal dan Domestik yang Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perkembangan dolar AS, perubahan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga penilaian investor terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Penguatan indeks dolar (DXY), kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta tingginya harga minyak berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Kondisi tersebut dapat mendorong arus modal keluar sekaligus meningkatkan kebutuhan devisa.
Dari sisi domestik, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% memunculkan kekecewaan di kalangan investor.
Langkah tersebut dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan reklasifikasi MSCI.
Potensi tambahan likuiditas sebesar Rp 190 triliun melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) juga belum sepenuhnya mengimbangi kekhawatiran investor.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan yang menyediakan ruang likuiditas bagi perbankan belum otomatis memulihkan kepercayaan pasar.
BI juga menaikkan deposit facility rate menjadi 5% dan menerapkan penurunan GWM secara bertahap.
Kombinasi kebijakan tersebut menghadirkan tantangan karena otoritas moneter harus menjaga daya tarik aset dalam rupiah sembari memberikan kelonggaran likuiditas yang dibutuhkan sektor perbankan.
Syafruddin menjelaskan bahwa peluang penguatan rupiah tetap terbuka apabila tekanan eksternal berkurang dan pasar memberikan respons positif terhadap kebijakan moneter.
"Jika tekanan global mereda dan investor menilai kebijakan BI kredibel, rupiah berpeluang memperoleh ruang penguatan," ungkap Syafruddin kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).
Ketidakpastian MSCI membayangi pergerakan rupiah.
Di luar perkembangan ekonomi global, risiko yang perlu diperhatikan adalah ketidakpastian terkait MSCI dan kemungkinan keluarnya dana asing dalam jumlah besar dari pasar saham serta obligasi domestik.
Pergerakan modal tersebut dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang terjadi bersamaan dengan aksi jual aset domestik berpotensi memperkuat permintaan dolar AS.
Menurut penilaian Syafruddin, kombinasi kondisi tersebut dapat mendorong mata uang AS kembali menembus level Rp 18.000.
Untuk mengurangi kerentanan pasar, Syafruddin menekankan pentingnya kepastian kebijakan, keterbukaan informasi, dan pembenahan tata kelola pasar modal.
Ketiga aspek itu dinilai berperan dalam menekan premi risiko yang memengaruhi keputusan investor.
"Prioritas pemerintah dan otoritas pasar adalah mengurangi premi risiko melalui kepastian kebijakan, transparansi, dan perbaikan tata kelola pasar modal," terang Syafruddin.
Untuk perdagangan Kamis (22/10/2026), Syafruddin memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.120 per dolar AS.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berpotensi berlanjut.
Level Rp 18.000 menjadi acuan psikologis yang perlu diperhatikan karena mencerminkan tarik-menarik antara permintaan dolar AS dan upaya stabilisasi nilai tukar.
Arah indeks dolar, perkembangan imbal hasil obligasi AS, serta respons investor terhadap kebijakan BI akan menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah.