unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › KH Amjad Al Hafidz Berpulang karena Sakit Jantung di Usia 73 Tahun, Ini Profil Penyusun Nadham Asmaul Husna
Hiburan

KH Amjad Al Hafidz Berpulang karena Sakit Jantung di Usia 73 Tahun, Ini Profil Penyusun Nadham Asmaul Husna

KH Amjad Al Hafidz Berpulang karena Sakit Jantung di Usia 73 Tahun, Ini Profil Penyusun Nadham Asmaul Husna
Potret KH Amjad Al Hafidz, penyusun Nadham Asmaul Husna asal Semarang (IG/@kemenag.jateng) • IG/@kemenag.jateng
A A Ukuran Teks16px

Kabar duka datang dari Semarang: KH Amjad Al Hafidz, penyusun Nadham Asmaul Husna, berpulang pada Senin, 3 November 2025, dalam usia 73 tahun karena sakit jantung.

KH Amjad Al Hafidz adalah ulama asal Semarang yang dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubarokah Semarang. Namanya melekat pada karya Nadham Asmaul Husna, syair berisi 99 nama Allah yang hingga kini dilantunkan di berbagai majelis dan pesantren. Karya tersebut menjadi warisan berharga yang memperkenalkan nama beliau ke banyak kalangan santri dan jemaah. Kehidupan pesantren yang beliau bangun bertumpu pada kedekatan antara kiai dan santri, hubungan yang terjalin bertahun-tahun melalui pengajian rutin, bimbingan personal, serta teladan kesederhanaan yang ditunjukkan dalam keseharian di lingkungan pondok.

Menurut kabar yang beredar, Amjad wafat di Semarang pada Senin, 3 November 2025, pada usia 73 tahun. Penyebab wafatnya adalah sakit jantung yang telah lama diderita. Sebelum berpulang, beliau sempat menjalani perawatan medis. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat yang mengenalnya.

Sosok Tawadhu dan Dekat dengan Santri

Di mata para santri dan jemaahnya, Amjad dikenal sebagai pribadi yang tawadhu dan sederhana. Ia dekat dengan para santri, membimbing mereka tidak hanya lewat pelajaran kitab, tetapi juga lewat keteladanan sikap sehari-hari. Kesederhanaan hidupnya menjadi pelajaran tersendiri bagi siapa pun yang pernah belajar kepadanya.

Selain mengasuh pesantren, beliau mendirikan majelis ilmu yang menjadi tempat masyarakat menimba pengetahuan agama. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Perpaduan antara keilmuan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial membuat sosoknya dihormati lintas kalangan di Semarang dan sekitarnya. Karya syair yang ditinggalkannya akan terus dibaca oleh generasi santri berikutnya, memastikan bahwa nama dan pengabdian beliau tidak berhenti pada kenangan satu generasi, melainkan diteruskan melalui lantunan yang hidup di majelis-majelis ilmu.

Warisan Nadham Asmaul Husna

Warisan terbesar Amjad adalah Nadham Asmaul Husna yang ia susun. Dalam bentuk syair, 99 nama Allah menjadi lebih mudah dihafal dan dilantunkan, terutama oleh santri dan jemaah majelis. Lantunan nadham ciptaannya terus hidup dalam berbagai majelis dan pesantren, jauh melampaui usia sang penyusun.

Kepergian KH Amjad Al Hafidz pada Senin, 3 November 2025, menutup perjalanan panjang seorang ulama yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Semoga amal ibadah beliau diterima, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan karya serta keteladanannya terus menjadi penerang bagi generasi santri berikutnya. Selamat jalan, Kiai.

Bagi masyarakat Semarang, wafatnya Amjad bukan sekadar kehilangan seorang pengasuh pesantren, melainkan kehilangan sosok panutan yang selama ini menjadi tempat bertanya dan belajar. Majelis ilmu yang beliau dirikan telah menjadi ruang pertemuan antara ilmu agama dan kehidupan sehari-hari warga, dan keberadaannya diharapkan terus hidup diteruskan oleh para santri dan penerusnya.

Duka atas kepergian beliau dirasakan terutama oleh mereka yang pernah duduk di majelisnya dan melantunkan nadham susunannya. Setiap lantunan Asmaul Husna kini terasa sebagai kenangan sekaligus penghormatan terakhir bagi sang penyusun, ulama sederhana yang memilih mengabdi dalam kesunyian pesantren hingga akhir hayatnya di usia 73 tahun.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru