unique visitors counter
⌂ Beranda › News › 8.324 Titik Panas di Papua Sepanjang 2026: Sebagian Api Muncul di Kawasan Food Estate dan Konsesi, Kata WALHI
News

8.324 Titik Panas di Papua Sepanjang 2026: Sebagian Api Muncul di Kawasan Food Estate dan Konsesi, Kata WALHI

8.324 Titik Panas di Papua Sepanjang 2026: Sebagian Api Muncul di Kawasan Food Estate dan Konsesi, Kata WALHI
Aparat memadamkan kebakaran hutan dan lahan. (AFP via Liputan6)
A A Ukuran Teks16px

Angka-angkanya sulit diabaikan. BMKG Merauke mencatat 6.703 titik panas (hotspot) di Papua Selatan hanya dalam rentang 24 jam — 11 Oktober pukul 02.00 sampai 12 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT. Itu adalah wajah dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang pada Oktober 2026 meluas sampai ke provinsi termuda di timur Indonesia itu.

Menurut BNPB, kebakaran melanda 10 distrik di Kabupaten Merauke: Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Elikobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel, sebagaimana disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan pada Minggu, 11 Oktober 2026. Lokasi terdampak mencakup Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik. Data sementara menunjukkan sekitar 63 hektare terbakar di sembilan lokasi, satu lokasi di Kampung Kondo masih didata, dan penyebab kebakaran masih diselidiki.

Pertanyaan yang lebih besar muncul dari data WALHI. Sepanjang Januari–Oktober 2026, organisasi itu mencatat sedikitnya 8.324 titik panas di seluruh Papua — termasuk 1.834 titik di kawasan Food Estate, 913 titik di kawasan kebun tebu atau Energy Estate, 1.221 titik di konsesi PBPH, dan 560 titik di konsesi perkebunan kelapa sawit. Karena sebagian titik api berada di kawasan yang dialokasikan bagi proyek pangan dan energi nasional di Papua Selatan, WALHI menilai kebakaran ini cenderung berkaitan dengan perubahan tata guna lahan, bukan kejadian alam semata.

Penilaian itu layak dicermati: hutan Papua bukan hutan biasa, melainkan salah satu penyangga ekologis terpenting yang kerap disebut paru-paru dunia. Ketika ribuan titik panas muncul di dalamnya — sebagian di kawasan proyek dan konsesi — yang dipertaruhkan jauh lebih besar daripada sekadar lahan yang hangus.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru