Pemilu Nepal 2026 Berlangsung di Tengah Sorotan Protes Gen Z dan Persaingan Tokoh Lama vs Figur Baru

Pemilu Nepal 2026 Berlangsung di Tengah Sorotan Protes Gen Z dan Persaingan Tokoh Lama vs Figur Baru

nepal--

Pemungutan suara Pemilu Nepal 2026 berlangsung pada Kamis dengan sejumlah perkembangan penting dari berbagai wilayah, mulai dari tingkat partisipasi pemilih, situasi keamanan di TPS, hingga dinamika persaingan kandidat yang menjadi pusat perhatian.

Partisipasi pemilih tembus satu juta pada pagi hari

Komisi pemilihan menyatakan lebih dari satu juta warga sudah memberikan suara hingga pukul 10.00 waktu setempat, atau sekitar 6 persen dari total 19 juta pemilih terdaftar.



Kepala komisioner pemilu Ram Prasad Bhandari menargetkan tingkat partisipasi melampaui 65 persen dan menyebut penghitungan suara diupayakan selesai pada 9 Maret.

Kementerian Dalam Negeri menyampaikan proses pencoblosan sejauh ini berlangsung damai, termasuk di dua daerah pemilihan yang berada dalam sorotan.

Kathmandu lengang, ratusan ribu pemilih pulang kampung

Suasana Ibu Kota Kathmandu dilaporkan lebih sepi pada hari pemilihan. Selain adanya larangan kendaraan publik dan pribadi, otoritas menyebut sekitar 800.000 warga telah meninggalkan Lembah Kathmandu selama sepekan terakhir untuk pulang ke daerah asal guna mencoblos.



Aturan pemilu di Nepal mengharuskan warga memberikan suara di daerah pemilihan tempat mereka terdaftar, yang kerap merupakan wilayah kelahiran.

Kontestan utama dan perebutan pengaruh pemilih muda

Salah satu kandidat yang banyak disorot adalah Gagan Thapa, 49 tahun, yang baru terpilih sebagai presiden Nepali Congress pada Januari. Ia kini ikut disebut sebagai penantang kuat untuk kursi perdana menteri.

Nepali Congress merupakan partai politik tertua di Nepal dan memiliki porsi kursi terbesar dalam pemerintahan sebelumnya, sebelum pemerintahan itu tumbang akibat protes besar yang dipimpin kalangan muda pada September tahun lalu.

Thapa dikenal sebagai mantan aktivis mahasiswa pro-demokrasi yang masuk parlemen sejak 2000-an dan kerap mendorong reformasi internal partai. Meski usianya relatif muda untuk ukuran elite politik Nepal, ia disebut luas sebagai figur yang mengusung kepemimpinan generasi muda, terutama setelah gelombang protes tahun lalu.

Dalam wawancara singkat selepas keluar dari bilik suara, Thapa menyampaikan pesannya kepada pemilih muda: “kami bersama kalian, kami mendengar kalian dan kami ingin memiliki suara kalian, kami berdiri untuk perubahan.” Ia juga menyebut pemilu kali ini sebagai pemilu yang “sangat dibutuhkan.”

Di sisi lain, KP Sharma Oli, 73 tahun, mantan perdana menteri empat periode, kembali maju setelah mengundurkan diri pada September ketika Nepal mengalami gejolak terburuk dalam beberapa dekade. Ia kini bertarung di daerah pemilihan Jhapa 5 melawan Balendra Shah.

Oli memiliki perjalanan politik panjang. Saat muda ia putus sekolah dan terlibat dalam pemberontakan komunis bersenjata yang berlangsung singkat. Ia kemudian menjalani lebih dari 14 tahun penjara, termasuk periode sel isolasi, atas kasus pembunuhan seorang petani, sebelum kembali aktif berpolitik pada akhir 1980-an dan menanjak di Partai Komunis Nepal (UML).

Balendra Shah, yang lebih dikenal sebagai Balen Shah, berusia 35 tahun dan merupakan mantan wali kota Kathmandu serta mantan rapper. Ia menjadi salah satu figur paling menonjol dalam pemilu ini dan turut masuk bursa kandidat perdana menteri, terutama karena popularitasnya di kalangan anak muda setelah protes anti-korupsi pada September.

Balen sempat mencoba terbang ke Jhapa 5 setelah mencoblos di Kathmandu. Namun helikopter yang ditumpanginya tidak dapat mendarat karena alasan “kebutuhan operasional” dan akhirnya kembali ke Kathmandu setelah sekitar satu jam di udara.

Peran pemimpin sementara dan pesan menjaga demokrasi

Perdana Menteri sementara Sushila Karki, 73 tahun, telah menggunakan hak pilihnya di Kathmandu. Mantan ketua mahkamah agung ini ditunjuk memimpin pemerintahan sementara pada September setelah pemerintah sebelumnya tersingkir akibat protes anti-korupsi yang dipimpin anak muda.

Menjelang hari pemungutan suara, Karki mengajak warga menggunakan hak pilih, seraya menekankan bahwa “demokrasi kita akan bertahan” jika partisipasi publik kuat.

Menteri luar negeri sementara Nepal juga menekankan pentingnya pemilu ini. Ia menyatakan bahwa “menjaga demokrasi tetap hidup dalam pemilu ini sangat penting,” sembari berharap jika tidak ada satu partai yang menang, koalisi bisa dibangun atas dasar kepentingan nasional.

Insiden di TPS dan tantangan logistik di wilayah pegunungan

Di distrik Dolakha, timur Kathmandu, polisi dilaporkan melepaskan tembakan peringatan ke udara setelah situasi memanas di sebuah TPS. Pejabat setempat menyebut tindakan itu terjadi setelah seorang petugas pemilu diserang di TPS Malu.

Pemungutan suara sempat terganggu, namun kemudian kembali dilanjutkan.

Di daerah pegunungan, distribusi kotak suara menjadi tantangan tersendiri. Di Pangboche, desa dekat Everest Base Camp, kotak suara harus dipikul petugas selama 9 hingga 10 jam menuju titik pengumpulan sebelum diterbangkan menggunakan helikopter.

Otoritas setempat menyebut medan Nepal yang lebih dari 80 persen wilayahnya berupa pegunungan membuat logistik pemilu sangat kompleks. Di distrik Dolpa, Nepal barat, ada 10 TPS yang berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter, termasuk TPS di Chharka Bhot pada 4.310 meter.

Kotak suara dari TPS di ketinggian tersebut disebut hanya bisa diangkut helikopter pada hari berikutnya, karena penerbangan helikopter tidak diizinkan setelah pukul 12.00.

TPS dikelola perempuan dan suara Gen Z di bilik suara

Di Bhaktapur 2, seorang petugas pemilu menyebut ada empat TPS di Madhyapur Thimi yang seluruh petugasnya perempuan. Personel keamanan yang berjaga juga perempuan, dan model ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan TPS.

Dari sisi pemilih muda, sejumlah warga menyampaikan harapan yang beririsan dengan tuntutan protes anti-korupsi tahun lalu. Seorang pemilih berusia 27 tahun yang datang sebelum TPS dibuka berharap perubahan yang dulu mereka suarakan bisa terwujud, terutama terkait korupsi dan lapangan kerja.

Pemilih lain berusia 25 tahun menyebut banyak anak muda “telah mengorbankan nyawa untuk negara,” dan karena itu mereka menginginkan perubahan yang nyata dan bertahan lama.

Makna pemilu setelah protes tahun lalu

Pemilu ini digelar setelah rangkaian protes mematikan pada September dan dipandang sebagai ujian ketahanan demokrasi Nepal serta institusinya. Pemilu kali ini juga menjadi ajang mengukur dukungan pemilih karena partai-partai tidak membentuk aliansi nasional besar seperti pada pemilu sebelumnya.

Sejumlah pengamat menilai pemilu 2026 memperlihatkan bagaimana isu tata kelola, transparansi, korupsi, serta penciptaan kerja menjadi topik yang lebih menonjol. Namun, mereka juga mengingatkan adanya risiko bila tuntutan layanan publik dan tata kelola dipakai sebagai alasan pengambilan keputusan yang cenderung otoriter dan melemahkan institusi demokrasi.

Sumber:


BERITA TERKAIT

Berita Lainnya