Serangan besar-besaran Rusia di Kyiv pada Kamis (14/5) dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 31 warga sipil.
Otoritas kota Kyiv mengonfirmasi jumlah korban jiwa dan luka tersebut. Serangan ini terjadi setelah periode gencatan senjata yang singkat antara kedua negara.
>>> Rahasia Bugar Jun Ji-hyun di Usia 45: Diet Ketat dan Olahraga Intens
Jurnalis AFP di ibu kota Ukraina melaporkan mendengar sirene serangan udara sebelum serangkaian ledakan keras menggema sepanjang malam.
Banyak warga ibu kota terpaksa mencari perlindungan di stasiun-stasiun metro bawah tanah untuk menghindari serangan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Rusia telah melancarkan lebih dari 670 drone serangan dan 56 rudal.
Serangan-serangan tersebut dilaporkan menargetkan lokasi-lokasi di Kyiv, meskipun fokus utamanya berada di ibu kota.
Zelenskyy mengomentari serangan ini melalui media sosial, menyatakan bahwa tindakan tersebut bukan berasal dari pihak yang percaya perang akan segera berakhir.
Ia menekankan pentingnya bagi para mitra internasional untuk tidak berdiam diri atas serangan yang terjadi.
>>> Korea Selatan Incar Pengalihan OPCON dari AS Lewat Dialog Tingkat Kantor Kepresidenan
Presiden Ukraina juga memperingatkan bahwa jumlah korban tewas bisa bertambah.
Hal ini dikarenakan kemungkinan masih ada korban yang terjebak di bawah reruntuhan di lokasi-lokasi serangan.
Lebih dari dua puluh lokasi di Kyiv dilaporkan terdampak oleh serangan rudal dan drone tersebut.
Detail mengenai kerusakan infrastruktur dan bangunan masih dalam pendataan oleh pihak berwenang setempat.
Serangan ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Ukraina, terutama setelah jeda pertempuran yang sempat terjadi.
Pihak berwenang terus melakukan upaya penyelamatan dan evakuasi di area yang terkena dampak serangan.
>>> Korea Naikkan Denda Kapal Ikan Ilegal Lima Kali Lipat
Dukungan internasional terhadap Ukraina diharapkan dapat terus mengalir di tengah meningkatnya intensitas serangan Rusia.