Petani di Cirebon, Jawa Barat, tengah menikmati masa panen padi yang melimpah. Kondisi ini membuat harga gabah di tingkat petani meningkat, sehingga kesejahteraan mereka ikut terdongkrak.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya menyebutkan, produksi beras sepanjang 2025 mencapai 296.416 ton dengan surplus 67.106 ton.
Pada Januari hingga April 2026, produksi Gabah Kering Giling (GKG) tercatat 139.811 ton atau setara 89.633 ton beras.
Capaian ini memastikan pasokan beras tetap tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kemudahan mendapatkan beras berkualitas juga dirasakan oleh para pelaku usaha kuliner.
Wawan (51), penjual sega lengko di Cirebon, mengaku lebih mudah mendapatkan beras premium saat panen melimpah.
Ia telah berjualan hidangan khas Cirebon itu sejak 2001 dan selalu menjaga konsistensi rasa.
Menurut Wawan, kualitas beras menjadi penentu kelezatan sega lengko. Beras premium membuat nasi tetap pulen dan hidangan terasa lebih nikmat.
"Beras tentunya datang dari hasil kerja keras petani," kata Wawan kepada ANTARA, Kamis (14/5).
Produksi beras di Cirebon selalu surplus dalam memenuhi kebutuhan pangan. Ketangguhan pangan ini terus terjaga dari tahun ke tahun.
Dengan panen melimpah dan harga gabah yang membuncah, petani di Cirebon pun sumringah. Mereka menikmati hasil jerih payah setelah berbulan-bulan merawat padi di sawah.
Nasi dalam sega lengko tak hadir begitu saja. Setiap bulirnya lahir dari peluh petani yang rela tersengat terik mentari saban hari demi merawat padi.
Kepul uap dari sega lengko berpadu apik dengan tajamnya aroma bawang goreng.
Kelezatan nasi berselimut bumbu kacang dengan irisan tahu-tempe inilah yang menjadi salah satu sumber energi warga di Cirebon untuk memulai pagi.