unique visitors counter
⌂ Beranda News Wamenlu: Kerja Sama di Selat Malaka Tetap Terjaga di Tengah Ketegangan Global

Wamenlu: Kerja Sama di Selat Malaka Tetap Terjaga di Tengah Ketegangan Global

Wamenlu: Kerja Sama di Selat Malaka Tetap Terjaga di Tengah Ketegangan Global
Kapal berlayar di Selat Malaka
A A Ukuran Teks16px

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno memastikan bahwa kerja sama pengelolaan Selat Malaka antara negara-negara yang melingkupinya tetap berjalan baik di tengah ketegangan geopolitik global.

"Negara-negara yang berada di Selat Malaka, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, tetapi mengadakan pertemuan teknis rutin antara masing-masing otoritas perhubungan lautnya untuk membahas keselamatan navigasi di Selat Malaka," kata Havas ditemui usai simposium terkait penegakan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) di masa kini di Kedutaan Besar Belanda Jakarta, Senin (18/5).

>>> Kuasa Hukum Desak Pengungkapan Aktor Intelektual dan Restitusi Keluarga Kacab Bank

IN2

Mekanisme tersebut juga mencakup Selat Singapura yang bersambung di bagian selatan Selat Malaka.

Bentuk Pengelolaan Selat Malaka

Ketiga negara pengelola Selat Malaka juga mengundang negara-negara yang memanfaatkan hak lintas di Selat Malaka untuk berkontribusi dalam pengelolaan wilayah laut tersebut melalui mekanisme kerja sama.

Havas menjabarkan bahwa bentuk pengelolaan Selat Malaka yang dilakukan Indonesia, Malaysia, dan Singapura antara lain melalui penyediaan rambu suar serta informasi terkait keamanan pelayaran.

in2

"Sehingga semua kapal yang melakukan navigasi di sana mendapatkan informasi maksimal demi keselamatan dan keamanannya," ujar dia.

Demi memastikan kelancaran pelayaran di Selat Malaka, negara-negara pengelolanya sepakat mengalihkan kapal tanker raksasa (VLCC) dan kapal-kapal berukuran sejenis untuk berlayar melalui Selat Sunda dan Selat Lombok.

>>> Pertamina Operasikan MT Halmahera untuk Jaga Distribusi BBM Nasional

Pasalnya, dengan rata-rata kedalaman sekitar 20--30 meter, selat tersebut terlalu dangkal untuk dilalui kapal yang sangat besar.

Karena itu, kapal-kapal super besar dari Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika yang hendak ke Singapura ataupun Laut China Selatan akan diarahkan berlayar ke Selat Sunda.

Sementara, kapal-kapal dari Australia akan berlayar melalui Selat Lombok.

Adapun Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia menjaga keamanan serta keterbukaan Selat Malaka dan Selat Singapura sesuai UNCLOS dapat menjadi contoh bagi kawasan lain di dunia.

>>> Koops Habema Bantah Terlibat Ledakan di Gereja Intan Jaya

"Keberhasilan Indonesia dan kerja sama efektif yang kita miliki di kawasan ini memiliki dampak besar pada prospek ASEAN, tetapi juga dapat menjadi contoh positif bagi seluruh dunia," kata Balakrishnan dalam pernyataan pers bersama Menlu RI Sugiono di Jakarta, Selasa (12/5).

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru