Saudi Arabia, Turki, dan Pakistan telah menandatangani perjanjian pertahanan pada Jumat, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Perjanjian ini ditandatangani saat pertemuan antara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Arab Saudi.
>>> BATIC 2026 Digelar di Bali, Targetkan 2.300 Delegasi dari 55 Negara
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa perjanjian tersebut bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap agresi.
Perjanjian itu menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya.
Perjanjian ini juga mencakup peningkatan semua aspek kerja sama pertahanan di antara ketiga negara.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai isi perjanjian tersebut.
Perjanjian ini menyatukan Arab Saudi yang kaya minyak, Pakistan yang memiliki senjata nuklir, dan Turki dengan militer terbesar kedua di NATO serta industri pertahanan yang berkembang pesat.
Televisi Turki, Haberturk, melaporkan bahwa perjanjian itu kemungkinan memungkinkan latihan militer bersama, pelatihan, transfer teknologi, dan berbagi intelijen.
>>> Jakarta Kembangkan Bus Sekolah Terintegrasi Identitas Digital Pelajar
Laporan lain yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa perjanjian tersebut akan menyatakan agresi terhadap salah satu negara dianggap sebagai agresi terhadap semua.
Arab Saudi, yang infrastruktur kritis dan fasilitas minyaknya pernah diserang dalam perang di Iran, telah berupaya memperluas kemitraan pertahanannya.
Pada bulan September, Pakistan dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bersama yang mendefinisikan serangan terhadap salah satu negara sebagai serangan terhadap keduanya.
Perjanjian ini juga muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Turki dan Israel terkait Gaza dan konflik regional lainnya, termasuk perang di Iran dan Lebanon.
Sharif tiba di Jeddah pada Kamis untuk kunjungan tiga hari dengan delegasi tingkat tinggi, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat, Field Marshal Asim Munir.
Selain membahas cara membantu meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, ketiga pemimpin diharapkan mengeksplorasi perluasan perdagangan, hubungan ekonomi, dan kerja sama keamanan yang lebih luas.
>>> UEA Beli Tanker Senilai Rp23 T di Tengah Lonjakan Ekspor Minyak
Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan kunjungan Sharif dilakukan dengan latar belakang meningkatnya ketegangan di Teluk, tetapi melampaui krisis langsung dan bertujuan memperkuat hubungan bilateral serta meningkatkan koordinasi dalam isu-isu regional dan internasional.

