Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan bahwa sikap Amerika Serikat terhadap wilayah otonomi Denmark itu tidak berubah.
Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuan pertamanya dengan utusan khusus Presiden Donald Trump, Jeff Landry, di Nuuk pada Senin.
>>> Progres Pembangunan Sekolah Rakyat di NTT Capai 60 Persen
Landry datang ke Nuuk tanpa undangan resmi. Nielsen menyebut pertemuan itu "konstruktif", tetapi menegaskan tidak ada tanda perubahan dari posisi AS.
"Kami dengan jelas menegaskan kembali bahwa rakyat Greenland tidak untuk dijual dan bahwa orang Greenland memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri.
Ini bukan subjek untuk negosiasi," kata Nielsen dalam konferensi pers.
Garis Merah Greenland
Menteri Luar Negeri Greenland, Mute Egede, juga mengatakan bahwa AS belum menyerah pada tujuannya untuk menguasai wilayah tersebut.
"Kami memiliki garis merah kami. Titik awal Amerika juga tidak berubah," ujar Egede.
Kunjungan Landry terjadi di tengah ketegangan transatlantik yang sedikit mereda namun belum hilang.
Trump sebelumnya mundur dari ancaman merebut Greenland dengan kekuatan militer setelah Denmark dan sekutu NATO menunjukkan perlawanan keras pada Januari lalu.
Setelah itu, pejabat dari Kopenhagen dan Nuuk mengadakan pertemuan pertama di Washington. Sebuah kelompok kerja kemudian dibentuk untuk membahas posisi AS.
"Pembicaraan berlangsung dalam kelompok kerja," tegas Egede. "Kami tidak akan mengadakan diskusi paralel."
Trump berulang kali berargumen bahwa AS perlu menguasai Greenland karena masalah keamanan nasional.
>>> Polresta Sleman Evakuasi 11 Bayi dari Day Care di Pakem
Ia menduga jika AS tidak mengambil alih pulau Arktik itu, maka bisa jatuh ke tangan China atau Rusia.
Landry, yang juga Gubernur Louisiana, tiba di Greenland pada Minggu. Ia dijadwalkan mengikuti forum ekonomi di ibu kota Greenland pada Selasa dan Rabu.