unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Cara Mendeteksi Gambar Buatan AI dari OpenAI dan Google

Cara Mendeteksi Gambar Buatan AI dari OpenAI dan Google

Cara Mendeteksi Gambar Buatan AI dari OpenAI dan Google
Cara Mendeteksi Gambar Buatan AI Lewat OpenAI & Google
A A Ukuran Teks16px

Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pembuatan gambar yang sangat realistis. OpenAI dan Google termasuk pengembang utama model AI generatif yang mampu menciptakan gambar dari teks.

Kemampuan ini membawa manfaat besar, tetapi juga risiko penyebaran konten palsu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mendeteksi gambar buatan AI.

>>> Gemini 3.5 Flash Resmi Rilis, Ungguli Gemini 3.1 Pro?

IN2

Ciri-Ciri Gambar Buatan AI

Gambar buatan AI sering memiliki ketidakwajaran pada detail tertentu. Misalnya, jari tangan yang jumlahnya aneh atau bentuk mata yang tidak simetris.

Selain itu, perhatikan pencahayaan dan bayangan. Gambar sintetis kadang memiliki sumber cahaya yang tidak konsisten.

Teks dalam gambar juga bisa menjadi petunjuk. AI sering kesulitan menghasilkan teks yang rapi dan terbaca.

in2

Alat Deteksi dari OpenAI

OpenAI menyediakan alat bernama Classifier untuk membedakan gambar buatan AI dan asli. Alat ini menganalisis pola piksel dan metadata.

Namun, keakuratannya tidak sempurna, terutama untuk gambar yang sudah dimodifikasi. OpenAI terus mengembangkan metode deteksi yang lebih baik.

Selain Classifier, OpenAI juga menyematkan watermark digital pada gambar yang dihasilkan DALL-E. Watermark ini tidak kasatmata, tetapi dapat dideteksi dengan perangkat lunak khusus.

Alat Deteksi dari Google

Google mengintegrasikan fitur deteksi gambar AI ke dalam Google Images. Saat mencari gambar, pengguna bisa melihat label "Generated by AI" jika terdeteksi.

Google juga mengembangkan SynthID, teknologi watermarking yang menyisipkan tanda digital pada gambar. Tanda ini tahan terhadap kompresi dan perubahan warna.

>>> Sinopsis Off Campus: Kisah Cinta Berawal dari Pacaran Palsu

SynthID dapat digunakan oleh pengembang lain melalui API. Ini membantu ekosistem yang lebih luas dalam mengidentifikasi konten sintetis.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru