Korea Selatan terus mengembangkan wisata ramah disabilitas atau barrier-free tourism. Program terbaru mencakup pengalaman lumpur pasang dan kano di berbagai lokasi alam.
Pada Mei 2026, sekelompok penyandang tunanetra dari Seoul mengikuti perjalanan ke Gungpyeong Fishing Village di Hwaseong, Gyeonggi. Mereka merasakan lumpur pasang untuk pertama kalinya.
>>> Pameran Digital Amazing Hermitage di Seoul Hadirkan Mahakarya Museum Rusia
“Meskipun saya tidak bisa menggali banyak kerang, lumpur itu menyentuh saya dan perasaan itu sangat baik,” kata Yang Hyung-keun (66), peserta dengan gangguan penglihatan.
“Bagi kami, sentuhan adalah indra terpenting.”
Perjalanan ini difasilitasi oleh Korea Tourism Organization (KTO) cabang Gyeonggi-Incheon bersama operator perjalanan aksesibel. Program ini merupakan bagian dari bulan wisata maritim yang ditetapkan pemerintah.
Ekspansi Program Wisata Ramah Disabilitas
KTO pertama kali menjalankan program wisata maritim ramah disabilitas pada Mei 2025 di Gaetgol Eco Park, Siheung.
Setelah mendapat respons positif, program diperluas tahun ini menjadi enam sesi di Incheon, Siheung, Ansan, dan Hwaseong.
Tahun lalu, program hanya menawarkan kunjungan ke tambak garam. Tahun ini, aktivitas bertambah menjadi pengalaman lumpur, naik kereta gantung laut, dan tur lahan basah ekologis.
Setiap sesi dirancang untuk peserta berbeda, termasuk penyandang disabilitas fisik dan tunarungu. Sesi yang diikuti rombongan tunanetra ini berfokus pada pengalaman lumpur.
Peserta diberikan pengarahan keamanan singkat sebelum turun ke lumpur. Beberapa ragu-ragu, namun pemandu menawarkan jalur kayu alternatif bagi yang tidak nyaman.
“Jika Anda tidak merasa nyaman, Anda tidak perlu memaksakan diri turun,” kata pemandu. Langkah pertama menikmati perjalanan adalah mengalami hal baru tanpa tekanan.
Peserta lain yang antusias langsung bergerak ke area lumpur, ditemani teman yang bertindak sebagai pemandu. Bagi mereka, sentuhan menjadi alasan utama mencari laut meski tidak bisa melihat.