Yang Hyung-keun menambahkan, “Saya ingin merasakan laut dan lumpur melalui sentuhan. Saya datang hari ini karena ingin menyentuh lumpur dengan tangan dan kaki.”
Selama berjalan di dataran lumpur, pemandu memperkenalkan kursi roda khusus bernama Hippocampe buatan Prancis.
Kursi roda ini memiliki roda besar seperti pelampung yang tidak tenggelam di lumpur, pasir, atau air.
Dengan rangka rendah, pengguna bisa membungkuk untuk mengambil kerang. Kursi ini juga bisa digunakan sebagai alat bantu renang jika rodanya diganti.
Meski sebagian besar peserta tidak memiliki keterbatasan mobilitas berat, mereka bergantian mencoba kursi roda tersebut. Setelah pengalaman lumpur, rombongan melanjutkan ke dua lokasi aksesibel lainnya.
>>> Konferensi Bersama GGGI dan GCF Bahas Aksi Iklim Ambisius di Seoul
“Beberapa ragu pada awalnya karena takut, tetapi yang lain menikmati perjalanan,” kata Yang. “Jika ada kesempatan lagi, saya berharap semua bisa berpartisipasi lebih aktif.”
Wisata Alam yang Lebih Inklusif
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata serta KTO telah menetapkan lokasi wisata ramah disabilitas sejak 2015. Program ini mendukung penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan keluarga dengan bayi.
Jumlah lokasi aksesibel bertambah dari enam pada tahun pertama menjadi 212 pada tahun ini.
Salah satu contohnya adalah King Canoe di Danau Uiam, Chuncheon, yang memungkinkan pengguna kursi roda ikut serta dalam aktivitas air.
Kano besar ini dapat menampung hingga 12 orang dan dimodifikasi untuk kursi roda manual maupun elektrik.
Tersedia empat kano aksesibel sehingga pengguna kursi roda tidak hanya menunggu di dermaga.
Seo Young-min, pemimpin tim Moving Trip yang memandu perjalanan di Gungpyeong, menekankan pentingnya keragaman penawaran. “Penyandang disabilitas dan non-disabilitas memiliki keinginan yang sama untuk pengalaman,” katanya.
