Namun, kontroversi itu memicu lahirnya akun parodi CJP di Instagram.
Akun tersebut mengadopsi kecoa sebagai simbol politik dan mulai memposting meme, slogan kampanye palsu, serta kritik satir terhadap pemerintah Modi.
Dalam hitungan hari, puluhan ribu relawan online mendaftar melalui formulir Google. Beberapa tokoh oposisi juga memberikan dukungan.
“Lima tahun lalu, tidak ada yang berani bersuara menentang Modi atau pemerintah. Sekarang zaman berubah,” kata Dipke, yang sebelumnya bekerja dengan Partai Aam Aadmi.
CJP dan Gelombang Ketidakpuasan Anak Muda
Dipke menegaskan bahwa CJP tidak berafiliasi dengan partai politik nyata mana pun. Namun, kemunculannya mencerminkan tren yang lebih luas di Asia Selatan.
>>> Xi Jinping Tunjukkan Dua Pendekatan Berbeda dalam KTT dengan Trump dan Putin
Anak muda telah menjadi motor penggerak gerakan anti-pemerintah di Sri Lanka, Bangladesh, dan Nepal dalam beberapa tahun terakhir.
Di India, tekanan ekonomi dan politik membuat banyak anak muda frustrasi.
India memiliki populasi anak muda yang besar, lebih dari seperempat total penduduk. Namun, lapangan kerja langka dan pengangguran terus meningkat.
Banyak pemilih muda juga marah dengan polarisasi agama, kesenjangan ekonomi, dan tekanan biaya hidup.
Aturan Absurd dengan Pesan Serius
CJP mengusung gaya satire yang kental. Syarat keanggotaannya antara lain menganggur, malas, kecanduan internet, dan pandai mengeluh secara profesional.
Manifesto partai ini menyentuh isu-isu sensitif seperti dugaan manipulasi pemilih, hubungan erat antara media korporat dan pemerintah, serta penunjukan hakim pensiunan ke jabatan resmi.
Para penentang, terutama pendukung Modi, menyebut CJP sebagai gimmick politik oposisi. Mereka meragukan popularitas ini akan bertahan lama dan menilai gerakan ini hanya kampanye digital tanpa akar rumput.