unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kaum Muda India Berbondong-Bondong ke Partai Politik Kecoa
News

Kaum Muda India Berbondong-Bondong ke Partai Politik Kecoa

Poster Partai Kecoa India dengan simbol kecoa
Poster Partai Kecoa India dengan simbol kecoa
A A Ukuran Teks16px

NEW DELHI — Sebuah partai politik parodi dengan simbol kecoa telah menjadi fenomena di India.

Cockroach Janta Party (CJP) menarik jutaan anak muda yang frustrasi dengan kondisi politik dan ekonomi.

Awalnya hanya proyek satir online. Kini CJP berkembang menjadi saluran protes yang unik.

Partai ini menggunakan humor absurd untuk mengkritik korupsi, pengangguran, dan disfungsi politik. Kecoa dipilih sebagai simbol karena kemampuannya bertahan di kondisi sulit.

Lonjakan Popularitas yang Cepat

CJP resmi meluncurkan situs web dan akun media sosial pada Sabtu lalu. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, akun Instagramnya telah memiliki lebih dari 15 juta pengikut.

Jumlah itu jauh melampaui akun Instagram Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang memiliki 8,8 juta pengikut.

Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, mengaku tidak menyangka dengan respons luar biasa ini. Menurutnya, gerakan ini mencerminkan frustrasi yang mendalam di kalangan anak muda India.

“Anak mudalah yang sebenarnya sangat frustrasi. Mereka tidak punya saluran.

Mereka sangat marah pada pemerintah,” kata Dipke, seorang ahli strategi komunikasi politik dan mahasiswa Boston University.

Bermula dari Komentar Hakim Agung

Kemunculan CJP dipicu oleh pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang menuai kontroversi. Dalam sidang pekan lalu, ia menyebut sebagian pengangguran dan aktivis muda sebagai “kecoa”.

“Ada anak muda seperti kecoa, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau tidak memiliki tempat di profesi,” ujar Kant.

Ia menambahkan bahwa mereka kemudian beralih ke aktivisme media sosial dan menyerang semua pihak.

Pernyataan itu langsung viral dan dianggap merendahkan. Kant kemudian mengklarifikasi bahwa ucapannya ditujukan bagi pemilik ijazah palsu, bukan semua anak muda.

Namun, kontroversi itu memicu lahirnya akun parodi CJP di Instagram.

Akun tersebut mengadopsi kecoa sebagai simbol politik dan mulai memposting meme, slogan kampanye palsu, serta kritik satir terhadap pemerintah Modi.

Dalam hitungan hari, puluhan ribu relawan online mendaftar melalui formulir Google. Beberapa tokoh oposisi juga memberikan dukungan.

“Lima tahun lalu, tidak ada yang berani bersuara menentang Modi atau pemerintah. Sekarang zaman berubah,” kata Dipke, yang sebelumnya bekerja dengan Partai Aam Aadmi.

CJP dan Gelombang Ketidakpuasan Anak Muda

Dipke menegaskan bahwa CJP tidak berafiliasi dengan partai politik nyata mana pun. Namun, kemunculannya mencerminkan tren yang lebih luas di Asia Selatan.

Anak muda telah menjadi motor penggerak gerakan anti-pemerintah di Sri Lanka, Bangladesh, dan Nepal dalam beberapa tahun terakhir.

Di India, tekanan ekonomi dan politik membuat banyak anak muda frustrasi.

India memiliki populasi anak muda yang besar, lebih dari seperempat total penduduk. Namun, lapangan kerja langka dan pengangguran terus meningkat.

Banyak pemilih muda juga marah dengan polarisasi agama, kesenjangan ekonomi, dan tekanan biaya hidup.

Aturan Absurd dengan Pesan Serius

CJP mengusung gaya satire yang kental. Syarat keanggotaannya antara lain menganggur, malas, kecanduan internet, dan pandai mengeluh secara profesional.

Manifesto partai ini menyentuh isu-isu sensitif seperti dugaan manipulasi pemilih, hubungan erat antara media korporat dan pemerintah, serta penunjukan hakim pensiunan ke jabatan resmi.

Para penentang, terutama pendukung Modi, menyebut CJP sebagai gimmick politik oposisi. Mereka meragukan popularitas ini akan bertahan lama dan menilai gerakan ini hanya kampanye digital tanpa akar rumput.

Namun, Dipke yakin gerakan ini tidak akan berhenti di dunia maya. “Ini adalah gerakan yang telah tiba di India… akan mengubah wacana politik,” ujarnya.

Mulai Merambah ke Dunia Nyata

Gerakan ini perlahan mulai turun ke jalan. Beberapa relawan muda muncul dalam protes dengan kostum kecoa.

Tak pelak, reaksi keras pun mulai terlihat.

Pada Kamis, Dipke menulis di X bahwa akun CJP yang memiliki sekitar 200.000 pengikut telah dibatasi di India.

Alasan pembatasan itu belum jelas.

Beberapa menit kemudian, Dipke mengumumkan akun baru dengan poster bertuliskan “Kecoa Kembali”. Unggahan itu menambahkan: “Kamu pikir bisa menyingkirkan kami?

Lol.”

Dipke mengatakan bahwa tekanan terhadap anak muda sangat akut di India, di mana kaum muda merupakan lebih dari seperempat populasi, namun banyak yang menghadapi kelangkaan lapangan kerja, pengangguran yang terus-menerus, dan frustrasi yang meningkat terhadap partai politik tradisional.

Banyak pemilih muda juga marah terhadap partai nasionalis Hindu pimpinan Modi atas isu-isu termasuk polarisasi agama yang meningkat, kesenjangan yang melebar, dan tekanan ekonomi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru