Pertemuan puncak beruntun yang dilakukan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Mei 2026 menunjukkan dua pendekatan yang berbeda.
Secara seremonial, kedua kunjungan tampak serupa dengan sambutan meriah di Lapangan Tiananmen, anak-anak melambaikan bunga, dan barisan prajurit berseragam lengkap.
>>> Trump Tolak Sistem Tol di Selat Hormuz, Sebut Jalur Internasional
Namun, di balik kemiripan itu, tergambar jelas perbedaan hubungan China dengan kedua negara adidaya tersebut.
Kunjungan Trump: Fokus pada Stabilitas dan Penghormatan
Selama kunjungan Trump, China berupaya menstabilkan hubungan dengan Amerika Serikat.
Xi menekankan keramahtamahan seremonial, termasuk tur langka ke Zhongnanhai, bekas taman kekaisaran yang kini menjadi markas pimpinan tertinggi China.
Menurut George Chen, mitra praktik Greater China dari The Asia Group, Beijing memahami bahwa Trump sangat menghargai rasa hormat yang terlihat di depan kamera.
“Xi tahu ini yang dihargai Trump: diperlakukan seperti VIP, dihormati di depan kamera,” ujarnya.
Trump tinggal di China selama tiga hari. Ia mendapat tur pribadi ke Kuil Surga dan berjalan-jalan di taman kekaisaran Zhongnanhai.
Xi mendesak Trump untuk melihat China sebagai mitra, bukan saingan. Kedua pemimpin sepakat bekerja menuju “hubungan China-AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis.”
Tidak ada deklarasi bersama atau penandatanganan kesepakatan publik selama kunjungan Trump.
Setelah Trump meninggalkan Beijing, kedua negara mengumumkan beberapa perjanjian, termasuk China setuju membeli produk pertanian AS senilai $17 miliar per tahun dan 200 jet Boeing.
Kunjungan Putin: Perdalam Kemitraan Strategis
Sebaliknya, kunjungan Putin berlangsung dua hari dan lebih berfokus pada substansi.
Xi dan Putin menghabiskan waktu di Balai Agung Rakyat, meninjau pameran foto hubungan China-Rusia, dan minum teh bersama.