Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan puncak di Beijing pada Rabu (20/5/2026).
Keduanya mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam kebijakan nuklir Amerika Serikat yang disebut tidak bertanggung jawab.
>>> Xi Jinping Dikabarkan Akan Kunjungi Korea Utara Pekan Depan
Mereka juga menentang rencana AS membangun sistem pertahanan rudal Golden Dome yang mencakup darat dan luar angkasa. Menurut pernyataan bersama, sistem itu mengancam stabilitas strategis global.
KTT ini berlangsung hanya sepekan setelah Xi menjamu Presiden AS Donald Trump di Beijing. Hal ini menunjukkan posisi China yang berusaha menjaga hubungan stabil dengan kedua negara adidaya.
Kritik Terhadap Kebijakan Nuklir AS
Dalam pernyataan bersama, China dan Rusia mengecam AS yang membiarkan perjanjian pembatasan senjata nuklir bilateral berakhir.
Perjanjian itu, yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir AS dan Rusia, kedaluwarsa pada Februari lalu.
Trump tidak menanggapi proposal Moskow untuk memperpanjang batasan rudal dan hulu ledak selama satu tahun.
Beberapa politisi AS berpendapat perpanjangan itu akan menghambat respons AS terhadap pembangunan nuklir China.
China dan Rusia juga menuduh AS dan Israel melanggar hukum internasional dengan menyerang Iran. Kedua negara menyatakan "perlawanan tegas terhadap hegemoni dan unilateralisme".
Posisi Xi yang Kuat di Tengah Dua KTT
Xi menutup pekan diplomatik yang luar biasa dengan bertemu pemimpin rival strategis terkuat China dan salah satu mitra terdekatnya.
Dalam KTT dengan Trump, fokusnya adalah mengelola ketegangan.
Sementara itu, pertemuan dengan Putin menantang Xi untuk menunjukkan kemajuan dalam hubungan yang sudah dinyatakan "tanpa batas".
Xi dan Putin telah bertemu lebih dari 40 kali dan menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada 2022.
