Kini, ia harus memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi semakin meleset dari target, atau mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai pengendali inflasi.
Dalam sidang konfirmasi Senat, Warsh menegaskan bahwa inflasi adalah pilihan Fed karena suku bunga dapat mendorong atau menekan belanja.
Tekanan dari Pasar dan Politik
Warsh akan menghadapi tekanan dari pasar obligasi global yang mulai menaikkan suku bunga sebagai tanda kekhawatiran inflasi.
>>> Tim Negosiator Qatar Tiba di Tehran untuk Bantu Akhiri Perang AS-Iran
Ia juga harus berhadapan dengan kolega seperti Waller yang mengisyaratkan perlunya suku bunga lebih tinggi, serta Trump yang sebelumnya kritis terhadap kenaikan suku bunga.
Keputusan Mahkamah Agung yang akan datang mengenai upaya Trump memecat Gubernur Lisa Cook juga akan menjadi sorotan.
Sikap Warsh terhadap independensi Fed akan dibandingkan dengan pendahulunya, Jerome Powell, yang dikenal membela independensi bank sentral.
Rapat Fed berikutnya dijadwalkan pada 16-17 Juni 2026, di mana para pengambil kebijakan akan memberikan suara pada suku bunga dan pernyataan kebijakan baru, serta memperbarui proyeksi ekonomi.
Salah satu keputusan penting Warsh adalah apakah akan mengajukan proyeksi suku bunga pribadinya (dot plot) yang bisa mengungkap perbedaan pandangannya dengan kolega atau justru membingungkan pasar.
Kebijakan moneter Fed memengaruhi suku bunga yang sensitif secara politis, seperti KPR.
Sementara itu, harga bensin yang mencapai 4,50 dolar AS per galon menjadi pengingat bahwa janji Trump untuk mengakhiri inflasi kini berada di tangan Warsh.
Warsh, 56 tahun, memenangkan dukungan Trump setelah melalui audiensi publik selama setahun. Dalam masa jabatannya sebagai gubernur Fed sebelumnya (2006-2011), ia dikenal menentang program pembelian obligasi Fed.
Kini, ia harus memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi semakin meleset dari target, atau mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai pengendali inflasi.