Ledakan gas di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi, China utara, menewaskan sedikitnya 90 orang.
Insiden ini menjadi kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam beberapa tahun terakhir.
>>> Cara Cek Nama Penerima Bansos PKH dan BPNT 2026 Secara Online
Kantor berita resmi Xinhua melaporkan kecelakaan di tambang batu bara Liushenyu di Kota Changzhi terjadi pada Jumat malam.
Sekitar 247 pekerja sedang bertugas saat itu.
Hingga Sabtu sore, sembilan penambang masih belum ditemukan. Lebih dari 120 orang dirawat di rumah sakit.
Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. Ratusan petugas penyelamat dan tenaga medis dikerahkan ke lokasi.
Banyak korban luka akibat gas beracun, menurut CCTV.
Presiden China Xi Jinping menyerukan upaya maksimal untuk menyelamatkan korban hilang. Ia juga meminta penanganan pasca-kecelakaan dan investigasi menyeluruh.
Xinhua melaporkan bahwa "orang-orang yang bertanggung jawab atas perusahaan yang terlibat dalam kecelakaan tambang telah diamankan," mengutip biro manajemen darurat setempat.
>>> Kemensos Terapkan 10 Desil Ekonomi untuk Salurkan Bansos 2026
Tambang tersebut dioperasikan oleh Shanxi Tongzhou Coal & Coke Group dengan kapasitas produksi tahunan 1,2 juta ton.
Pada 2024, tambang ini masuk dalam daftar nasional tambang rawan bencana karena kandungan gas tinggi.
Shanxi dikenal sebagai provinsi pertambangan batu bara utama China.
Dengan luas lebih besar dari Yunani dan populasi sekitar 34 juta, provinsi ini menghasilkan 1,3 miliar ton batu bara tahun lalu, hampir sepertiga total produksi China.
Pada Februari 2023, 53 orang tewas akibat longsor di tambang terbuka di Mongolia Dalam. Pada November 2009, ledakan di tambang Heilongjiang menewaskan 108 orang.
Presiden Xi Jinping juga meminta "penanganan yang tepat atas dampak kecelakaan dan mendorong penyelidikan menyeluruh terhadap penyebabnya, dengan akuntabilitas dikejar sesuai hukum," demikian laporan Xinhua.
>>> Rubio Akui Ada Kemajuan dalam Negosiasi dengan Iran, tetapi Masih Perlu Banyak Pekerjaan
Tambang batu bara Liushenyu, yang dioperasikan oleh Shanxi Tongzhou Coal & Coke Group dengan kapasitas produksi tahunan 1,2 juta ton, telah masuk dalam daftar nasional tambang rawan bencana oleh Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China pada 2024 karena memiliki "kandungan gas tinggi."
