Fenomena menarik terjadi di industri musik Korea Selatan.
Semakin banyak penggemar dan artis muda yang beralih dari K-pop ke trot, genre musik tradisional Korea yang dulu dianggap kuno.
>>> Kunci Jawaban Quordle Hari Ini Senin 25 Mei: Bocoran Game #1582
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat. Di baliknya, ada kekecewaan mendalam terhadap industri K-pop yang dianggap semakin elitis dan tidak ramah penggemar.
Kekecewaan terhadap Budaya Fanatisme K-Pop
Seorang penggemar berusia 20-an, Kim, mengaku merasa diperlakukan seperti penjahat oleh agensi K-pop.
Ia harus membeli lebih dari 40 album hanya untuk menghadiri pertemuan penggemar, lalu diperiksa tubuh secara ketat.
Insiden lain terjadi saat ia pergi ke bandara untuk melihat idola favoritnya. Kim didorong hingga jatuh oleh bodyguard meski berdiri jauh dari artis tersebut.
Pengalaman serupa dirasakan banyak penggemar lain.
Mereka kerap disebut sebagai 'chandala' atau kelompok tak tersentuh dalam kasta sosial India, karena merasa direndahkan oleh agensi.
Kemarahan memuncak saat petugas keamanan di sebuah fan meeting memeriksa pakaian dalam penggemar untuk mencegah perekaman ilegal. Banyak yang akhirnya memutuskan hengkang dari K-pop.
Sebaliknya, di dunia trot, penggemar merasa lebih dihargai.
Di konser trot, tenda-tenda didirikan untuk menjaga kenyamanan penonton lanjut usia, dan staf rela menggendong penggemar tua ke tempat duduk.
Budaya 'melayani' menjadi nilai utama dalam trot. Ini kontras dengan K-pop yang sering membuat penggemar merasa diawasi dan diperlakukan sebagai potensi ancaman.
Biaya Produksi K-Pop yang Meroket
Tak hanya penggemar, para artis muda pun mulai melirik trot. Biaya produksi K-pop yang sangat tinggi menjadi salah satu penyebabnya.
Video musik untuk lagu 'Super Lady' milik (G)I-DLE menghabiskan biaya 1,1 miliar won atau sekitar $727.000.
