Fenomena menarik terjadi di industri musik Korea Selatan.
Semakin banyak penggemar dan artis muda yang beralih dari K-pop ke trot, genre musik tradisional Korea yang dulu dianggap kuno.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat. Di baliknya, ada kekecewaan mendalam terhadap industri K-pop yang dianggap semakin elitis dan tidak ramah penggemar.
Kekecewaan terhadap Budaya Fanatisme K-Pop
Seorang penggemar berusia 20-an, Kim, mengaku merasa diperlakukan seperti penjahat oleh agensi K-pop.
Ia harus membeli lebih dari 40 album hanya untuk menghadiri pertemuan penggemar, lalu diperiksa tubuh secara ketat.
Insiden lain terjadi saat ia pergi ke bandara untuk melihat idola favoritnya. Kim didorong hingga jatuh oleh bodyguard meski berdiri jauh dari artis tersebut.
Pengalaman serupa dirasakan banyak penggemar lain.
Mereka kerap disebut sebagai 'chandala' atau kelompok tak tersentuh dalam kasta sosial India, karena merasa direndahkan oleh agensi.
Kemarahan memuncak saat petugas keamanan di sebuah fan meeting memeriksa pakaian dalam penggemar untuk mencegah perekaman ilegal. Banyak yang akhirnya memutuskan hengkang dari K-pop.
Sebaliknya, di dunia trot, penggemar merasa lebih dihargai.
Di konser trot, tenda-tenda didirikan untuk menjaga kenyamanan penonton lanjut usia, dan staf rela menggendong penggemar tua ke tempat duduk.
Budaya 'melayani' menjadi nilai utama dalam trot. Ini kontras dengan K-pop yang sering membuat penggemar merasa diawasi dan diperlakukan sebagai potensi ancaman.
Biaya Produksi K-Pop yang Meroket
Tak hanya penggemar, para artis muda pun mulai melirik trot. Biaya produksi K-pop yang sangat tinggi menjadi salah satu penyebabnya.
Video musik untuk lagu 'Super Lady' milik (G)I-DLE menghabiskan biaya 1,1 miliar won atau sekitar $727.000.
Pada tahun 2000-an, biaya produksi video musik grup seperti BigBang, Wonder Girls, dan Girls' Generation hanya berkisar 110 juta hingga 220 juta won.
Artinya, biaya produksi video musik K-pop kelas atas meningkat setidaknya lima kali lipat. Hal ini membuat persaingan semakin tidak seimbang.
Data Circle Chart menunjukkan, dari 20 lagu paling banyak diputar tahun lalu, tujuh di antaranya adalah lagu K-pop dari agensi besar seperti SM Entertainment.
Tidak ada satu pun lagu dari agensi kecil yang masuk daftar tersebut.
Sepuluh tahun lalu, situasinya berbeda.
Pada 2014, setidaknya tiga lagu dari agensi kecil masuk 20 besar tahunan, seperti 'Mr. Chu' dari Apink dan 'Something' dari Girl's Day.
Namun kini, agensi kecil yang dulu menjadi tangga bagi mimpi para trainee hampir semuanya runtuh. Kekuatan modal dan pengaruh industri menjadi faktor penentu kesuksesan grup K-pop baru.
CEO sebuah agensi menengah yang telah mengelola grup K-pop selama lebih dari 20 tahun mengatakan, dua puluh tahun lalu agensi besar menghabiskan 500 juta hingga 1 miliar won untuk memproduksi album.
Sekarang biaya minimalnya 5 miliar won.
Dengan biaya yang begitu besar, investasi baru hanya mengalir ke agensi besar yang memiliki modal dan jaringan luar negeri.
Akibatnya, banyak grup K-pop dari agensi kecil bubar sebelum kontrak tujuh tahun mereka berakhir, seperti boy group Luminous dan girl group Purple Kiss.
Dulu, grup seperti g. o.
d dan BTS bisa sukses meski hidup dalam kondisi serba kekurangan. Kini, cerita Cinderella semacam itu tidak lagi berlaku.
Kebangkitan Trot di Kalangan Muda
Di sisi lain, trot menawarkan peluang yang lebih terbuka.
Ha Dong-geun, yang memulai debut sebagai penyanyi trot di usia 20-an, mengaku memilih genre itu karena ingin terus tampil di panggung meski usianya bertambah.
Fenomena ini juga terlihat di akademi musik.
Lee Ho-seop, komposer veteran di balik lagu-lagu trot hits seperti 'Let's Do the Cha-cha-cha', mengatakan lima tahun lalu tidak ada satu pun remaja yang ingin belajar trot.
Kini, remaja menjadi mayoritas muridnya.
Anak-anak muda kini dengan bangga mengatakan mereka belajar trot, tanpa ragu seperti dulu. Perubahan ini didorong oleh menjamurnya program audisi trot yang memberikan jalan karier lebih jelas.
Trot menawarkan stabilitas dan tradisi, berbeda dengan K-pop yang terus berubah dan menuntut inovasi. Genre ini lebih konservatif secara musikal, dengan lirik yang tidak terlalu eksperimental.
Kim Sung-yoon, peneliti di Dong-A University, menyebut trot sebagai 'perangkat ajaib yang memutar balik waktu atau menghentikannya sejenak'.
Ia menafsirkan tren ini sebagai reaksi terhadap kelelahan akibat persaingan berlebihan dan stimulasi konstan.
Fenomena serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana musik country yang dulu dianggap kuno kini menikmati kebangkitan kembali.
Baik trot maupun country sama-sama didorong oleh artis dan pendengar muda.
Perubahan ini menunjukkan bahwa generasi muda Korea mulai mencari sesuatu yang lebih akrab, stabil, dan menenangkan secara emosional, bukan sekadar kebaruan.
Di konser trot, tenda-tenda didirikan untuk menjaga kenyamanan penonton lanjut usia, dan staf rela menggendong penggemar tua ke tempat duduk.
Budaya 'melayani' menjadi nilai utama dalam trot, kontras dengan K-pop yang sering membuat penggemar merasa diawasi dan diperlakukan sebagai potensi ancaman.
Fenomena ini juga terlihat di panggung internasional.
Saat BigBang tampil di Coachella bulan lalu, sorakan terbesar justru datang untuk lagu trot Daesung, 'Look at Me, Gwisun', bukan untuk hit global mereka.