Investigasi Associated Press (AP) mengungkapkan lonjakan angka bunuh diri di kalangan tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang dinilai mengkhawatirkan.
Setidaknya 10 tahanan, semuanya laki-laki, tewas bunuh diri sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari 2025.
>>> Trump Gelar Rapat Kabinet Penuh di Camp David
Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan jumlah tahanan.
Sejak Oktober 2024, tujuh kematian telah diklasifikasikan sebagai bunuh diri, menjadikannya jumlah terbanyak untuk tahun fiskal mana pun dalam sejarah ICE.
Biasanya, ICE hanya mencatat satu atau tidak ada kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya.
Para ahli kesehatan masyarakat dan penjara menyebut lonjakan ini sebagai indikasi kegagalan otoritas dalam mengawasi puluhan ribu imigran yang ditahan.
Kematian Brayan Rayo Garzon
Kematian pertama dalam lonjakan ini terjadi pada April 2025. Brayan Rayo Garzon, 26 tahun, veteran militer Kolombia, meninggal saat menjalani isolasi di Phelps County Jail, Missouri.
Ia positif COVID-19 dan meminta perawatan kesehatan mental, namun ditunda.
Rayo dilarang menelepon ibunya setiap malam sebagai tindakan pencegahan penyebaran penyakit. Ia menulis catatan memohon kepada penjaga untuk mengatur percakapan dengan ibunya.
Dalam waktu satu jam setelah menyerahkan catatan itu, ia ditemukan tidak sadarkan diri di selnya. Otopsi menyimpulkan ia bunuh diri.
Ibu Rayo, Adriana Garzon, mengatakan putranya ingin mengumpulkan uang untuk menyewa pengacara agar bisa tetap tinggal di AS setelah hakim memerintahkan deportasinya pada 2024.
Ia ditangkap polisi St. Louis karena menggunakan kartu kredit curian, lalu diserahkan ke ICE.
Pelanggaran Standar Detensi
Investigasi AP menemukan bahwa pusat-pusat detensi ICE berulang kali gagal memenuhi standar mereka sendiri.
Staf mengabaikan tanda-tanda tekanan, menunda perawatan kesehatan mental, dan gagal memantau tahanan yang sudah dianggap berisiko.