Banyak orang berusaha belajar bahasa asing seperti Inggris, Spanyol, Prancis, atau Jepang.
Namun, setelah menghafal kosakata yang cepat terlupakan, berjuang dengan tata bahasa, dan merasa malu karena kesalahan berbicara, banyak yang akhirnya menyerah.
>>> Korea Siapkan 'K-Heritage House' Raksasa di Sesi UNESCO Busan
Para ahli mengatakan penyebabnya mungkin bukan kurangnya kemampuan, melainkan keyakinan yang keliru tentang belajar bahasa itu sendiri.
Abigail Parrish dan Jessica Mary Bradley, spesialis pendidikan bahasa di University of Sheffield, menganalisis kesalahpahaman umum yang mengganggu pembelajaran bahasa asing.
Berdasarkan pengalaman pendidikan mereka, para peneliti berpendapat bahwa mendekati pembelajaran bahasa seperti ujian sekolah justru dapat menciptakan hambatan.
Mereka menyoroti bagaimana sistem sekolah yang berpusat pada tes, kekhawatiran tentang akuisisi bahasa, dan kesenjangan antara pembelajaran kelas dan komunikasi dunia nyata menjadi masalah.
Kesimpulannya: komunikasi nyata lebih penting daripada skor tata bahasa atau hafalan.
Mitos Pertama: Belajar Bahasa Hanya Soal Menghafal
Kesalahpahaman pertama adalah keyakinan bahwa belajar bahasa terutama tentang menghafal aturan tata bahasa dan kosakata.
Para ahli menjelaskan bahwa belajar bahasa bukan sekadar tugas menghafal, melainkan proses memahami manusia, budaya, dan sejarah.
Musik, film, buku, dan permainan dapat memainkan peran penting dalam akuisisi bahasa.
Pengalaman ini juga membantu pelajar mengembangkan “kelincahan antarbudaya” — kemampuan berempati dan terhubung dengan orang dari latar belakang budaya berbeda.
Mitos Kedua: Kesalahan Itu Memalukan
Kesalahpahaman besar lainnya adalah anggapan bahwa kesalahan itu memalukan. Di lingkungan sekolah, jawaban benar dan akurasi sangat ditekankan.
>>> Indonesia Turis Grup Bebas Visa ke Korea Selatan Mulai Pekan Ini
Namun, percakapan nyata bekerja berbeda.
Orang sering salah menggunakan kata atau membuat kesalahan tata bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi komunikasi tetap berhasil.