Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menjadikan pariwisata sebagai prioritas utama pemerintahannya. Tidak ada presiden sebelumnya yang menaruh perhatian sebesar ini pada sektor pariwisata.
Pariwisata dianggap sebagai solusi untuk mengatasi perlambatan ekonomi, penurunan demografi, dan lemahnya ekonomi regional.
>>> Camilan Sehat untuk Kontrol Kalori saat Diet
Lonjakan Wisatawan Asing
Korea Selatan mencatat rekor 18,94 juta wisatawan asing pada tahun lalu. Angka ini diperkirakan akan terlampaui tahun ini.
Pada kuartal pertama tahun ini, jumlah wisatawan asing mencapai 4,76 juta, naik 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bulan Maret saja mencatat 2,06 juta kunjungan, tertinggi sepanjang sejarah.
Fokus pada Pariwisata Regional
Pemerintahan Lee berbeda dengan pemerintahan sebelumnya karena lebih fokus pada pengembangan pariwisata regional dan rencana jangka panjang.
Berbagai kebijakan telah diluncurkan untuk mendistribusikan keuntungan pariwisata ke luar wilayah ibu kota.
Program "half-price travel" diperluas ke 16 wilayah, memberikan voucher perjalanan hingga setengah biaya bagi wisatawan yang mengunjungi daerah dengan penurunan populasi.
Wisatawan muda bisa mendapatkan manfaat hingga 140.000 won (sekitar Rp1,6 juta).
Pemerintah juga meningkatkan kualitas industri pariwisata melalui langkah-langkah "value up" untuk mengubah popularitas K-culture menjadi kunjungan berkelanjutan.
Salah satu upayanya adalah memudahkan masuknya wisatawan asing, termasuk program bebas visa untuk tur grup dari Indonesia.
Perubahan Struktural
Pemerintah merevisi Undang-Undang Kerangka Pariwisata, mengubah pertemuan strategi pariwisata dari yang dipimpin perdana menteri menjadi langsung di bawah presiden.
Revisi ini juga memperkuat mekanisme evaluasi dan umpan balik kebijakan.
Menurut Yoon Tae-hwan, profesor di Departemen Manajemen Hotel dan Konvensi Universitas Dong-Eui, perubahan struktural ini menunjukkan pariwisata kini diperlakukan sebagai agenda nasional jangka panjang.
