"Fakta bahwa pertemuan sekarang dipimpin langsung oleh presiden memiliki arti penting," katanya.
Yoon menambahkan bahwa lonjakan pariwisata saat ini bukan pemulihan sementara, melainkan pertumbuhan struktural.
>>> Jung Ryeo-won Jaga Kesehatan dengan Makan Malam Sederhana
"Dibandingkan dengan negara pesaing seperti Jepang, Korea masih memiliki ruang besar untuk tumbuh secara kuantitatif," ujarnya.
Tantangan ke Depan
Menurut Yoon, industri pariwisata Korea harus beralih dari sekadar jumlah pengunjung ke indikator seperti pengeluaran dan lama tinggal.
"Arah ke depan tidak boleh lagi hanya berpusat pada jumlah wisatawan," katanya.
Meskipun pariwisata regional meningkat, Seoul masih menjadi satu-satunya destinasi bagi banyak wisatawan. Yoon menilai Korea telah beroperasi di bawah sistem pariwisata kutub tunggal.
"Negara harus beralih ke sistem multipolar, memungkinkan daerah seperti Busan, Provinsi Gangwon, Pulau Jeju, dan provinsi Jeolla berdiri sendiri sebagai pusat perjalanan," ujarnya.
Busan menjadi contoh nyata pergeseran ini.
Kota pelabuhan di tenggara itu mencatat lebih dari satu juta wisatawan asing pada kuartal pertama, tercepat sepanjang sejarah.
Yoon menyarankan Korea meniru model pariwisata regional seperti daerah Kansai di Jepang, di mana Osaka, Kyoto, Kobe, dan Nara beroperasi sebagai destinasi yang saling terhubung dengan infrastruktur transportasi yang efisien.
Seorang pejabat industri pariwisata yang tidak disebutkan namanya menekankan perlunya daerah mengembangkan identitas pariwisata unik, tidak hanya bergantung pada popularitas K-culture dan nilai tukar yang menguntungkan.
"Jika Anda melihat Jepang, meskipun Tokyo dan Osaka menarik wisatawan terbanyak, banyak juga yang bepergian ke kota-kota regional kecil karena tempat-tempat itu memiliki daya tarik dan konten tersendiri," katanya.
Pejabat itu menambahkan bahwa sebagian dari ledakan pariwisata saat ini didukung oleh lemahnya won Korea dan popularitas K-culture.
"Ke depannya, daerah regional akan membutuhkan daya saing yang lebih kuat dan mandiri," ujarnya.
Para ahli mengatakan Korea masih menghadapi tugas struktural seperti meningkatkan bandara regional, konektivitas transportasi, dan konten pariwisata lokal.
Presiden Lee menargetkan 30 juta wisatawan asing per tahun pada 2029, dengan menekankan bahwa pertumbuhan pariwisata harus bermanfaat bagi ekonomi lokal dan usaha kecil di seluruh negeri.
>>> Korea Ekspor Budaya Lebih dari Sekadar K-Pop Lewat Tur Kesenian
"Pertumbuhan pariwisata harus melampaui ekspansi kuantitatif menuju pertumbuhan kualitatif," kata Lee pada Februari. "Manfaat pariwisata harus dibagi dengan distrik komersial lokal dan pemilik usaha kecil di seluruh negeri."