jelasnya.
Tak semua tahun ditulis Andre dalam rentang waktu hampir empat dekade. Ia memilih tahun-tahun spesifik yang mengikuti peristiwa sosial-politik di Indonesia atau ajang pesta demokrasi.
Namun Andre menolak bila novel ini bertema utama politik atau sejarah. Bagi lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana ini, Semesta Nekra adalah wadah meracik karya sastra dan jurnalistik.
"Saya cuma berangkat dari eksperimen penulisan," kata Andre. "Sebenarnya ini sangat mencerminkan perjalanan karier saya, antara jurnalisme dan sastra, itu masih menyatu."
"Saya enggak terlalu punya agenda politik untuk menulis ini, tema itu buat saya jadi nomor dua, nomor satunya eksperimen format penulisan," paparnya.
"Jadi saya lebih ke bagaimana menuliskan cerita yang enggak pada umumnya, cara berceritanya."
Sebelum menjadi penulis buku, Andre Syahreza pernah bekerja sebagai jurnalis di Bali Post dan TEMPO. Ia juga menjadi editor majalah djakarta!
>>> Erin Ganti Pengacara, Sunan Kalijaga Tak Lagi Tangani Kasus Dugaan Kekerasan ART
dan pernah diundang ke Belanda untuk meneliti karya sastra Indonesia bertema Politik Warisan oleh The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies.