Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel pada Senin (1/6). Langkah ini merupakan de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah menewaskan ribuan orang.
Menurut Kedutaan Besar Lebanon di Washington, kesepakatan itu tidak akan mengakhiri konflik di negara tersebut.
>>> AS Bahas Perluasan Pengerahan Senjata Nuklir di Eropa
Namun, Israel diminta menahan diri dari serangan di Beirut dan pinggiran kota yang dikuasai Hizbullah.
Sementara itu, kelompok yang didukung Iran itu akan menghentikan serangannya ke Israel. Namun, permusuhan di Lebanon selatan, yang diinvasi Israel pada Maret, masih berlanjut pada Senin malam.
Pada Selasa dini hari, militer Israel mengatakan mencegat dua proyektil yang melintas dari Lebanon ke Israel utara. Tidak ada laporan korban jiwa.
Peran Trump dan Netanyahu
Presiden AS Donald Trump, yang pertama kali mengumumkan kesepakatan itu, mengatakan Hizbullah melalui perantara berjanji tidak akan menyerang Israel.
Trump juga mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setuju untuk menarik pasukan yang bersiap menyerang Beirut.
Setelah pengumuman Trump, Netanyahu mengatakan Israel akan melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan.
Pasukan darat Israel terus mendorong maju menuju Sungai Zaharani, yang merupakan invasi terdalam mereka dalam 25 tahun.
Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah mengatakan milisi itu akan mendukung gencatan senjata penuh di seluruh Lebanon sebagai langkah awal penarikan pasukan Israel.
Ia tidak menyebut apakah kelompok itu akan menghentikan serangan ke wilayah Israel.
Upaya Perluasan Gencatan Senjata
Lebanon mengatakan akan berupaya memperluas gencatan senjata dalam pembicaraan dengan Israel di Washington pada Rabu.
Hal itu bisa membuka jalan bagi upaya baru untuk mengakhiri perang tiga bulan yang dimulai dengan serangan AS dan Israel ke Iran.
