Israel dan Lebanon sepakat mengimplementasikan gencatan senjata untuk mengakhiri permusuhan, kata pemerintahan Trump pada Rabu (4/6).
Langkah ini meningkatkan harapan tercapainya kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
>>> Iran: Tak Ada Kemajuan Nyata dalam Negosiasi dengan AS
Teheran sebelumnya mengkondisikan kesepakatan dengan AS pada penghentian pertempuran antara Israel dan Lebanon.
Detail Gencatan Senjata
Gencatan senjata Israel-Lebanon bergantung pada penghentian total tembakan dari milisi Hizbullah yang beraliansi dengan Iran.
Selain itu, semua operatif Hizbullah harus dievakuasi dari Sektor Litani Selatan, demikian pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri AS setelah negosiasi di Washington.
Kedua pihak telah menyetujui gencatan senjata bulan lalu, tetapi permusuhan terus berlanjut.
Israel menginvasi Lebanon pada Maret untuk mengejar kelompok militan Lebanon Hizbullah, yang menembak melintasi perbatasan untuk mendukung Teheran.
Serangan di Kuwait dan Selat Hormuz
Serangan terhadap Kuwait dan di selat tersebut merupakan yang terbaru yang menguji gencatan senjata yang rapuh antara AS, Israel, dan Iran.
Harga minyak naik hampir 2 persen karena selat tersebut sebagian besar masih ditutup lebih dari tiga bulan setelah AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran.
Penerbangan di Bandara Internasional Kuwait ditangguhkan setelah serangan drone dan rudal Iran merusak fasilitas bandara dan misi diplomatik.
Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 lainnya, kata otoritas Kuwait dan media pemerintah.
Kuwait Airways dan Jazeera Airways kemudian melanjutkan penerbangan setelah mengambil langkah-langkah keselamatan, kata otoritas penerbangan sipil.
Pasukan Garda Revolusi Iran mengatakan mereka tidak menembaki bandara Kuwait dan menyalahkan kehancuran pada rudal pencegat AS yang gagal mengenai sasaran.
Militer AS mengatakan itu tidak akurat, dan drone Iran menargetkan bandara dengan sengaja.