Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan pelaku pasar. Kekhawatiran utama tertuju pada arah kebijakan moneter ke depan di tengah ketidakpastian global.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai perhatian pasar tidak hanya pada sosok pengganti. Lebih penting, apakah gubernur baru mampu menjaga independensi bank sentral.
>>> Penembakan di Festival Makanan Seattle Tewaskan 2 Orang, 5 Luka-Luka
Risiko Fiscal Dominance
Liza mengingatkan risiko fiscal dominance, yaitu kebijakan moneter yang lebih diarahkan untuk mendukung kebutuhan pemerintah. Contohnya menekan biaya utang negara atau mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Jika itu terjadi, fokus BI bisa bergeser dari menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. Stabilitas eksternal pun terancam.
>>> Rencana Indonesia Kurangi Metana TPA Ubah Nasib Pemulung
"Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah Gubernur BI berikutnya cukup independen untuk mengatakan 'tidak' kepada Presiden," ujar Liza, Senin (27/7/2026).
Ia menambahkan, pemerintah perlu menunjukkan independensi BI tetap terjaga dalam proses penunjukan gubernur definitif. Tanpa komunikasi dan pembuktian yang kuat, pasar berpotensi merespons negatif.
Respons tersebut bisa berupa pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil SBN, dan meningkatnya risk premium. Kekhawatiran muncul bahwa keputusan suku bunga dipengaruhi tekanan politik, bukan pertimbangan moneter.
