Wabah hantavirus yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius kembali menyoroti kebutuhan mendesak akan pengobatan dan vaksin untuk virus langka namun mematikan ini.
Tidak seperti virus corona yang baru muncul, hantavirus telah dikenal selama puluhan tahun dan diperkirakan ada di seluruh dunia.
>>> Korea Dorong Talenta ke Kedokteran, China Prioritaskan Teknik
Namun, karena relatif jarang dan tidak mudah menular antarmanusia, investasi untuk penelitian dan pengembangan obat masih terbatas.
Tim peneliti di Chile, Argentina, dan Amerika Serikat telah lama berupaya menemukan obat dan vaksin.
Kini, perhatian yang dihasilkan oleh wabah kapal pesiar, ditambah kekhawatiran perubahan iklim akan meningkatkan kontak manusia dengan hewan pengerat, diharapkan dapat memberikan momentum baru.
Penelitian Obat Menunjukkan Harapan
Pada Rabu (4/6), para peneliti mempublikasikan temuan bahwa obat untuk penyakit autoimun mungkin membantu pasien hantavirus melawan gejala paling mematikan.
Dr. Fernando Tortosa dari Universitas Nasional Río Negro di Patagonia, Argentina, penulis utama studi tersebut, berharap situasi ini dapat memperkuat kolaborasi dan sumber daya untuk penelitian.
Virus Andes, yang menyebabkan wabah di kapal pesiar, menjadi fokus khusus karena merupakan satu-satunya hantavirus yang diduga dapat menular antarmanusia.
Infeksi hantavirus memang jarang, tetapi bisa sangat mematikan.
Tiga dari 13 kemungkinan kasus di kapal pesiar berakhir dengan kematian. Di Chile, Kementerian Kesehatan telah mengonfirmasi 15 kematian dan 42 kasus hantavirus tahun ini.
Sementara itu, Argentina melaporkan 32 kematian dan 102 kasus sejak Juni 2025.
Di AS, 35 persen kasus hantavirus sejak 1993 berakibat fatal, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Uji Coba Obat untuk Sindrom Paru Akibat Hantavirus
Di Argentina, peneliti menguji apakah obat untuk rheumatoid arthritis dapat membantu melawan sindrom paru akibat hantavirus (hantavirus pulmonary syndrome), infeksi parah yang disebabkan oleh virus Andes dan Sin Nombre.