unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle [K-LIT REVIEW] 'If We Cannot Go at the Speed of Light': Fiksi Ilmiah yang Menyentuh Hati

[K-LIT REVIEW] 'If We Cannot Go at the Speed of Light': Fiksi Ilmiah yang Menyentuh Hati

[K-LIT REVIEW] 'If We Cannot Go at the Speed of Light': Fiksi Ilmiah yang Menyentuh Hati
Sampul buku If We Cannot Go at the Speed of Light karya Kim Choyeop
A A Ukuran Teks16px

Kumpulan cerpen Kim Choyeop, 'If We Cannot Go at the Speed of Light', telah terjual lebih dari 400.000 eksemplar di Korea Selatan.

Di China, buku ini meraih Gold Award dalam kategori karya terjemahan di China Nebula Awards ke-14, penghargaan fiksi ilmiah paling bergengsi di negara tersebut.

>>> The Shilla Seoul Gelar Pertemuan Hotel Mewah Asia Pertama

IN2

Kini, terjemahan bahasa Inggris oleh Anton Hur memperkenalkan karya ini kepada pembaca Anglosphere.

Buku ini sukses menembus batas genre dan meraih pengakuan internasional.

Apa rahasia kesuksesannya? Banyak pembaca yang mengaku tidak biasa membaca fiksi ilmiah, tetapi akhirnya terpikat oleh buku ini.

in2

Fiksi ilmiah sering diasosiasikan dengan pesawat luar angkasa, alien, robot, dan pandangan distopia yang dingin.

Namun, Kim Choyeop tidak berfokus pada teori astrofisika atau detail teknis. Ia lebih menekankan dampak teknologi pada individu dan masyarakat.

Cerpen pertama, 'Symbiosis Theory', membayangkan spesies alien yang hidup berdampingan dengan manusia seperti mikroorganisme di usus kita.

Kim mengajukan pertanyaan: Apa yang membuat manusia menjadi manusia? Bagaimana jika sifat-sifat yang kita anggap 'manusia' berasal dari alien yang hidup di dalam diri kita?

Cerita ini sangat relevan di era kecerdasan buatan yang semakin mengambil alih pekerjaan intelektual dan kreatif.

Dalam dunia yang terus berubah, Kim menulis tentang hal-hal yang tetap sama.

Cerita utama, 'If We Cannot Go at the Speed of Light', membawa pembaca ke masa depan di mana perjalanan luar angkasa telah memperluas batas pemukiman manusia.

>>> Lotte World Sukses Gelar Program Anak Berbasis Animasi Properti

Namun, kisah seorang nenek yang dengan keras kepala menunggu pesawat luar angkasa yang tidak akan pernah kembali sangat bisa dirasakan oleh siapa pun: perjuangan menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, kekecewaan ambisi yang pupus, dan kerinduan pada keluarga yang jauh.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru