Orang Korea telah lama memiliki rahasia bertahan di musim panas: melawan panas dengan rasa takut.
Selama beberapa dekade, kedatangan musim hujan identik dengan tayangan horor di televisi Korea, cerita hantu, dan antologi horor yang diputar tepat saat malam tropis membuat tidur mustahil.
>>> Museum Seoul Ungkap Sejarah Panjang Sindang-dong dari Zaman Joseon hingga Tren Modern
Logikanya, setengah sains dan setengah cerita rakyat, menyatakan bahwa menggigil kedinginan mampu mendinginkan tubuh lebih baik daripada kipas angin.
Tradisi itu bertahan hingga kini dalam bentuk film horor musim panas dan rumah hantu yang muncul di Seoul setiap Juli.
Namun bagi pembaca berbahasa Inggris, kini ada jalur alternatif untuk mendapatkan sensasi dingin musiman itu, tanpa harus bergantung pada jump scare atau plot slasher yang formulaik.
Fiksi horor dan kriminal Korea telah menjadi salah satu sudut terjemahan sastra yang tumbuh paling cepat, dengan deretan novel yang menawarkan sesuatu yang lebih dingin dan abadi.
Waktu kemunculannya mengundang perbandingan dengan Jepang.
Penerbit berbahasa Inggris telah menghabiskan satu dekade terakhir mengikuti gelombang misteri Jepang terjemahan, dari teka-teki ruang terkunci klasik Seishi Yokomizo hingga "The Decagon House Murders" karya Yukito Ayatsuji dan kesuksesan viral baru-baru ini dari penulis samaran Uketsu.
Tradisi itu, yang dikenal sebagai "honkaku" atau misteri ortodoks, memperlakukan pembunuhan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, sebuah permainan yang dimainkan secara adil antara penulis dan pembaca.
Fiksi Korea terjemahan mengambil jalan yang berbeda.
Thriller paling terkenal dari Korea jarang bertanya siapa yang melakukan kejahatan. Mereka bertanya mengapa, dan apa yang ditinggalkan oleh kejahatan itu.
Hasilnya adalah karya yang lebih dekat ke horor psikologis dan sastra sastra daripada ke kotak teka-teki, dan itu menjadikannya pintu gerbang yang khas bagi pembaca yang mengira sudah tahu apa yang dilakukan novel misteri.

