unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Adegan Drama Era 2003 Viral Usai Kekurangan Surat Suara di Pilkada Korea

Adegan Drama Era 2003 Viral Usai Kekurangan Surat Suara di Pilkada Korea

Adegan Drama Era 2003 Viral Usai Kekurangan Surat Suara di Pilkada Korea
Adegan drama Rustic Period yang viral terkait kekurangan surat suara pemilu
A A Ukuran Teks16px

Adegan dari drama SBS populer "Rustic Period" yang tayang lebih dari dua dekade lalu kembali viral di media sosial.

Kemunculannya terjadi setelah kontroversi kekurangan surat suara dalam pemilihan lokal Korea pada Rabu (5/6).

>>> Aktor James Handy Meninggal Usia 81 Tahun, Dibunuh Anak Kekasih

IN2

Adegan tersebut mendramatisasi kecurangan pemilu 15 Maret 1960 yang memicu jatuhnya pemerintahan Presiden Syngman Rhee. Cuplikan itu dibagikan secara luas di komunitas online sejak hari pemungutan suara.

Dalam Episode 121 yang tayang 22 September 2003, gangster politik Im Hwa-soo yang diperankan aktor Choi Jun-yong merencanakan manipulasi pemilu 1960.

Ia memerintahkan anak buahnya untuk memasukkan surat suara palsu setara 40 persen pemilih ke kotak suara demi Partai Liberal yang berkuasa.

in2

Salah satu anak buahnya khawatir rencana itu akan mengalihkan surat suara asli dari pemilih. Ia bertanya apakah warga akan diam saja tanpa menerima kertas suara.

Im menepis kekhawatiran itu dengan mengatakan rakyat biasa tidak akan mengerti dan akan menganggap surat suara habis.

Adegan itu menarik perhatian baru karena mengingatkan banyak pemirsa pada insiden kekurangan surat suara dalam pemilihan lokal tahun ini.

Pada Rabu, pemungutan suara di 14 tempat pemungutan suara di Distrik Songpa, Gangnam, dan Gwangjin Seoul dihentikan sementara setelah persediaan surat suara habis lebih awal dari perkiraan.

>>> Konser Ramah Lingkungan Lebih dari Sekadar Bebas Plastik dan Pilah Sampah

Petugas pemilu dilaporkan meremehkan tingkat partisipasi pemilih dan gagal menyiapkan surat suara yang cukup. Akibatnya terjadi kebingungan dan penundaan di tempat pemungutan suara.

Meskipun situasinya berbeda dari kecurangan pemilu yang direncanakan dalam "Rustic Period", banyak pengguna internet tetap menunjukkan kemiripan gambaran pemilih yang tidak bisa mendapatkan surat suara.

Kontroversi ini juga memperkuat kritik bahwa otoritas pemilu secara tidak sengaja memberikan amunisi bagi kelompok yang menyebarkan teori konspirasi kecurangan pemilu.

Beberapa pengunjuk rasa berkumpul di tempat pemungutan suara di lingkungan Jamsil 7-dong, Seoul, dengan menuduh adanya kecurangan pemilu.

Mereka juga mencoba memblokir pemindahan kotak suara. Polisi akhirnya membubarkan para demonstran pada Kamis pagi.

Kritik daring pun mengalir deras. "Bagaimana bisa masuk akal bahwa orang tidak bisa memilih karena tidak ada surat suara?"

>>> Harta Tembus US$2 Miliar, Taylor Swift Jadi Musisi Perempuan Terkaya

tanya seorang komentator. Ia juga berpendapat bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kesalahan penanganan harus dimintai pertanggungjawaban.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru