unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Mungkinkah Konser Ramah Lingkungan Sungguh Diterapkan di Indonesia?

Mungkinkah Konser Ramah Lingkungan Sungguh Diterapkan di Indonesia?

Mungkinkah Konser Ramah Lingkungan Sungguh Diterapkan di Indonesia?
Konser musik ramah lingkungan di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

"Juga diperlukan vendor yang siap menangani ini, mulai dari vendor F&B, waste management, produksi panggung, merchandise, logistik, dan lain-lain harus punya standar yang sama," lanjutnya.

>>> Sindikat Online Scams Asia Tenggara Dibongkar, Jutaan Akun dan Aset Disita

Pemerintah juga bisa memberikan insentif bagi promotor yang menerapkan standar ramah lingkungan. Panduan dan indikator yang jelas diperlukan agar tidak semua orang mengklaim 'green concert' dengan ukuran masing-masing.

IN2

Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, mengamini pentingnya dukungan infrastruktur. Menurutnya, pemerintah bisa mengerahkan armada kebersihan dan menyediakan tempat sampah di sekitar venue.

Edukasi kepada penonton juga tidak kalah penting. Sigit menekankan bahwa jika penonton sudah paham dampak konser terhadap lingkungan, biaya mitigasi tidak akan terasa berat.

"Menjadi mahal kalau kita tidak pernah melakukan edukasi. Tapi kalau dari awal sudah dijelaskan, penonton pada akhirnya mudah mengikuti," katanya.

in2

Dilema Biaya dan Solusi Kolektif

Penerapan konser ramah lingkungan membutuhkan biaya tambahan, terutama di fase awal. Jika dibebankan sepenuhnya kepada penonton, daya beli bisa menurun.

Salah satu solusi adalah membeli kredit karbon.

Penelitian Marie Connolly dkk (2016) menunjukkan biaya kompensasi karbon hanya menambah sekitar satu persen harga tiket dan tidak menghalangi penonton.

Makassar International Writers Festival (MIWF) pada 2024 telah melakukan hal serupa. Mereka mengkompensasi emisi 17 ton CO2e dengan menanam 335 pohon mangrove.

Revie menilai konser ramah lingkungan sangat potensial.

"Penonton anak muda semakin peduli pada isu lingkungan, gaya hidup berkelanjutan, dan citra sosial dari aktivitas yang mereka konsumsi," ujarnya.

Ia menambahkan, sponsor juga tertarik karena banyak brand membutuhkan aktivasi yang sejalan dengan agenda sustainability. Namun, kerja kolektif dari promotor, sponsor, vendor, dan pemerintah sangat diperlukan.

"Mungkin model pembiayaannya bisa ditanggung bersama oleh promotor, sponsor, vendor, atau melalui efisiensi produksi, dan sebagian kecil masuk dalam harga tiket," kata Revie.

Dengan kesadaran penonton yang mulai tumbuh dan sebagian promotor yang sudah bergerak, konser ramah lingkungan di Indonesia bukan sekadar angan.

>>> Putra Wali Kota Gangneung Terpilih, From20, Curi Perhatian dengan Dukungan Bakti

Kini tinggal menanti aksi nyata pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menentukan standar dan arah masa depan industri konser.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru