Jam tangan lari premium seperti Garmin Fenix biasanya hanya mendukung aksesori resmi untuk metrik lanjutan. Namun, seorang programmer berhasil menembus batasan tersebut.
Sam Dumont, sang programmer, mengirim data metrik efisiensi lari ke Garmin Fenix menggunakan chip ESP32 dan nRF52832.
>>> Fitur Gear Tracking Garmin Pantau Jarak Tempuh dan Usia Komponen Sepeda
Jam tangan mendeteksi sinyal itu seolah-olah berasal dari sensor asli Garmin, lengkap dengan ground contact time dan osilasi vertikal.
Proyek ini memanfaatkan bantuan AI Claude untuk menelusuri protokol Bluetooth Low Energy yang sebelumnya tertutup.
Kode sumber proyek dibagikan melalui GitHub, membuka peluang bagi pengembang aksesori lari buatan sendiri.
Sinyal Palsu yang Disangka Sensor Resmi
Dumont memprogram chip ESP32 atau nRF52832 agar mengirim paket data Bluetooth yang formatnya identik dengan sensor lari Garmin.
Ketika jam Fenix menerima data tersebut, perangkat langsung menampilkan ground contact time dan vertical oscillation, dua metrik penting untuk menilai efisiensi gerak pelari.
Biasanya, metrik semacam itu hanya bisa diperoleh dengan membeli pod kaki atau aksesori Garmin resmi yang harganya tidak murah.
Dengan trik ini, jam tangan mengira sedang membaca data dari perangkat keras asli, padahal berasal dari papan pengembangan murah.
>>> Samsung Galaxy Tab Active6 Bocor, Usung Koneksi 5G dan Siap Meluncur 2027
Sampel data yang digunakan masih berupa angka statis, bukan hasil pengukuran sensor sungguhan. Namun, bukti konsep ini menunjukkan bahwa tembok ekosistem tertutup Garmin tidak sepenuhnya kedap.
Claude, Teman Ngoding yang Kritis
Dumont tidak mengerjakan semuanya sendirian. Dalam unggahan di Reddit dan blog pribadinya, ia mengaku memanfaatkan AI Claude sebagai rekan teknis.
Saat menemui kebuntuan dalam membongkar komunikasi Bluetooth Low Energy, ia melempar ide ke Claude dan mendapatkan sudut pandang baru yang kritis.
Dumont mengaku tidak memiliki keahlian mendalam di reverse engineering. Namun, pengalamannya bermain dengan platform Garmin sejak 2020 memberinya bekal cukup untuk memahami arah percakapan dengan AI.
"Claude seperti kolega yang paham teknis, bisa menguji gagasanmu dan menawarkan pendekatan berbeda. Tapi pemahaman dasar teknologi tetap wajib," ujarnya.
Cara ini menggambarkan bagaimana pemrogram masa kini bisa menggunakan AI untuk mempercepat eksplorasi tanpa harus menjadi pakar di segala bidang.
>>> SeeLight S1: Robot Humanoid China yang Bisa Cuci Piring, Tapi Butuh 10 Menit untuk Lipat 1 Kaos
Rasa penasaran yang dibantu mesin membuka celah inovasi yang selama ini hanya dinikmati pabrikan besar.
