Ini menunjukkan sifat kuasi-dinasti sistem Korea Utara.
Banyak kata yang dianggap sebagai ciri khas bahasa Korea Utara, seperti "eoreum-bosungi" (es krim) dan "kkoburang-guksu" (mi keriting), sebenarnya jarang digunakan di sana.
Jeong berpendapat kesalahpahaman ini muncul karena Korea Utara sering dijadikan bahan hiburan.
"Orang sering mengonsumsi Korea Utara hanya untuk hiburan. Kebenaran tidak sepenting kejutan atau kelucuan.
Begitu sebuah kata diperkenalkan secara salah, jarang diperbaiki," kata Jeong.
Yang paling menyakitkan adalah nama resmi negara.
Pada Januari 2024, Kim Jong-un menyatakan bahwa Selatan dan Utara bukan bangsa yang sama dan tidak menginginkan reunifikasi, serta secara resmi menggunakan "Republik Korea" alih-alih "Namjoseon".
>>> Museum Nasional Korea dan Galeri Uffizi Tandatangani MoU Pertukaran Koleksi
Meski demikian, Jeong menekankan bahwa orang harus saling memahami bahasa. "Babak terakhir perpecahan akan ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan kolektif yang kita bangun sepanjang jalan," tutupnya.