unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle 9 Karya Seni Korea Siap Tampil di Festival Avignon 2026

9 Karya Seni Korea Siap Tampil di Festival Avignon 2026

9 Karya Seni Korea Siap Tampil di Festival Avignon 2026
Poster Festival Avignon 2026 dengan karya seni Korea
A A Ukuran Teks16px

Sembilan karya teater dan tari kontemporer Korea Selatan akan menjadi sorotan di Festival Avignon 2026, salah satu festival seni pertunjukan paling bergengsi di dunia.

Korea Arts Management Service (KAMS) memperkenalkan sembilan produksi yang diundang ke festival tersebut dalam konferensi pers di Seoul, Kamis (21/5/2026).

>>> Kolaborasi Kuliner Korea dan Kanton di Wynn Palace Makau

IN2

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bahasa Korea ditetapkan sebagai "bahasa tamu" resmi festival, menjadikannya bahasa Asia pertama dan satu-satunya bahasa nasional yang mendapat status tersebut.

Pengakuan atas Bahasa dan Seni Korea

Pierre Morcos, penasihat kerja sama budaya Kedutaan Besar Prancis di Seoul, menyebut keputusan itu sebagai pengakuan atas kekuatan puitis bahasa Korea serta dinamisme dan kreativitas teater kontemporer Korea.

"Sudah ada antisipasi besar di kalangan penonton Prancis," ujarnya.

in2

Presiden KAMS Kim Jang-ho mengatakan undangan besar-besaran ini mencerminkan minat global yang meningkat terhadap pertunjukan kontemporer berbahasa Korea.

"Ini membuktikan bahwa kreativitas dan keragaman seni pertunjukan kontemporer yang diciptakan berdasarkan bahasa Korea menarik perhatian internasional," kata Kim.

Festival Avignon akan berlangsung pada 4-25 Juli 2026 di kota Avignon, Prancis selatan.

Festival ini menarik sekitar 130.000 penonton setiap tahun dan menampilkan ratusan pertunjukan teater, tari, dan seni multidisiplin.

Daftar Sembilan Karya Korea

Berikut adalah pengenalan singkat sembilan proyek Korea yang diundang ke program resmi festival.

"MULJIL" oleh Lee Jin-yeob

Terinspirasi oleh haenyeo atau penyelam perempuan Jeju, "MULJIL" menampilkan empat tokoh—pekerja pabrik, wanita hamil, transgender, dan wanita yang ingin mengubah penampilannya—untuk mengeksplorasi berbagai bentuk kerentanan di bawah tekanan sosial.

Tubuh mereka yang melayang menggambarkan batas antara hidup dan mati, serta menggema pengalaman pengungsi di laut, mengajak refleksi tentang ketahanan dan solidaritas bersama.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru