Di Makau, tempat tradisi jamuan Kanton, perhotelan mewah, dan pariwisata global bertemu, sebuah acara kolaborasi di Wynn Palace baru-baru ini menawarkan lebih dari sekadar pameran restoran ternama.
Acara yang mempertemukan restoran berbintang Michelin dari Korea dan Makau ini menjadi eksplorasi mendalam tentang bagaimana identitas kuliner Korea berkembang melalui dialog dengan tradisi Asia tetangga, bukan hanya kerangka fine dining Barat.
>>> Busan Rayakan 150 Tahun Sejarah Maritim dengan Festival Budaya Global
Kolaborasi Dua Hari
Kolaborasi bertajuk "An Early Summer Encounter: Transforming Heritage into Gastronomy" berlangsung pada 8-9 Mei.
Acara ini menampilkan koki Tam Kwok Fung dari restoran Michelin dua bintang Chef Tam's Seasons di Makau, Kang Min-goo dari Mingles tiga bintang di Seoul, serta Cho Eun-hee dan Park Sung-bae dari Onjium satu bintang di Seoul.
Berbeda dari jamuan multi-koki pada umumnya yang sering menampilkan hidangan khas masing-masing restoran, acara ini terasa berbeda.
Beberapa hidangan memadukan tradisi Korea dan Kanton secara alami sehingga sulit mendeteksi kepengarangan individu, meskipun sensibilitas setiap dapur tetap utuh.
Kesinambungan itu disengaja.
"Kami ingin ini menjadi kolaborasi sejati, bukan sekadar sampel hidangan masing-masing koki," kata Tam.
Pendekatan Sejarah
Di Mingles, yang menyajikan reinterpretasi kontemporer masakan Korea, Kang mengatakan para koki bertujuan menciptakan "pengalaman gastronomi yang benar-benar baru yang belum ada sebelumnya."
Alih-alih mengadaptasi hidangan khas yang sudah ada, restoran ini mengembangkan sesuatu yang sepenuhnya baru untuk kolaborasi tersebut.
Kang juga berbagi riset yang menelusuri pertukaran kuliner berabad-abad antara Korea dan Tiongkok, mulai dari kebiasaan makan Dinasti Goryeo (918-1392) yang memengaruhi budaya istana Yuan (1271-1368) hingga misi diplomatik Joseon (1392-1910) yang memperkenalkan teknik jamuan, bahan, dan filosofi makanan baru ke Korea.