unique visitors counter
alt top
⌂ Beranda Lifestyle Buku Baru Ungkap Budaya Bahasa Korea Utara yang Sebenarnya

Buku Baru Ungkap Budaya Bahasa Korea Utara yang Sebenarnya

Buku Baru Ungkap Budaya Bahasa Korea Utara yang Sebenarnya
Sampul buku The Purest and Finest Language in the World karya Jeong So-un
A A Ukuran Teks16px
alt mid

Bahasa Korea Utara mungkin terdengar akrab bagi banyak orang Korea Selatan melalui film, komedi, atau acara televisi yang menampilkan pembelot.

Namun, pemahaman yang sebenarnya tentang "Pyongyang Cultural Language" masih sulit diraih.

>>> Choi Jung-wha, Pelopor Diplomasi Budaya Korea, Meninggal di Usia 71

alt top

Jeong So-un, direktur di National Institute for Peace, Unification and Democracy Education, menerbitkan buku berjudul "The Purest and Finest Language in the World".

Judul itu diambil dari frasa yang digunakan rezim Korea Utara untuk memuliakan bahasa budaya mereka.

Menurut Jeong, sejak awal Korea Utara tidak ingin bahasanya tetap sama dengan Korea Selatan.

alt mid

Hal ini terlihat dari perubahan kosakata, seperti kata "sangho" (saling) yang kini diganti menjadi "hosang" di Utara.

Kesenjangan Bahasa yang Melebar

Akar dari kebanggaan linguistik ini adalah kampanye "pemurnian bahasa" yang dimulai pada 1966. Tujuannya mengganti semua kata serapan asing dengan istilah asli Korea.

Namun, pada abad ke-21, pengaruh bahasa Rusia, Cina, Jepang, dan Inggris sulit dihilangkan.

Banyak istilah pengganti yang resmi gagal populer, seperti "dajin-sogogi-gyeopppang" (roti lapis daging giling) yang kalah dengan "hamburger".

Dalam masyarakat yang bahkan mengatur onomatope, kata tiruan, dan nama bayi, satu area yang relatif aman adalah peribahasa.

Peribahasa dianggap sebagai kebijaksanaan lama, bukan pendapat pribadi, sehingga aman digunakan.

>>> Alternatif Sayuran Pengganti Mi untuk Penggemar Mi

Korea Utara juga memandang dialek daerah sebagai pelanggaran moral dan tata krama, sehingga berusaha menghilangkannya. Namun, saat merujuk pada "musuh", mereka bebas menggunakan hinaan kasar.

Kata seperti "geui" (dia) dan "eobeoi" (orang tua) yang biasa di Selatan, di Utara hampir secara eksklusif digunakan untuk pemimpin tertinggi.

alt under
E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
alt mid
📰 Update Terbaru