Profesor dan pengajar bahasa Inggris asal Korea, Min Byoung-chul, menjadi dosen tamu selama sehari bagi remaja Zimbabwe, Jumat lalu.
Atas undangan Kedutaan Besar Republik Korea di Zimbabwe, Min memberikan kuliah interaktif daring selama 70 menit tentang budaya Korea kepada para remaja setempat.
>>> Filipina Luncurkan Paviliun Resmi di Seoul Food 2026 Manfaatkan FTA dengan Korea
Min adalah profesor endowed chair di Chung-Ang University dan penulis buku "Land of Squid Game".
Dalam sesi tersebut, ia menjelaskan adat istiadat Korea dan ungkapan sehari-hari yang umum digunakan.
Para peserta berkumpul di aula kuliah yang disiapkan di kediaman Duta Besar Korea untuk Zimbabwe, Park Jae-kyung.
Setiap segmen kuliah dilaporkan memicu diskusi yang hidup di antara para peserta.
Sesi berlangsung dengan pola sederhana: menonton video pendek YouTube dari kanal Min, dilanjutkan komentar dan sesi tanya jawab.
Namun, acara tersebut dengan cepat berubah menjadi pertukaran dua arah saat para siswa membandingkan adat Korea dengan adat mereka sendiri.
Min menyoroti kode budaya sehari-hari, mulai dari sapaan "Sudah makan?"
dan sup rumput laut ulang tahun, hingga lantai empat yang hilang, tabu sumpit, dan mentalitas "ppalli-ppalli" (buru-buru) di balik kebangkitan pascaperang Korea.
Yang paling mengejutkan para peserta adalah ungkapan Korea "Sudah makan?"
, yang lahir dari kesulitan pascaperang dan digunakan sebagai sapaan yang menandakan kepedulian, bukan sekadar keingintahuan tentang makanan seseorang.
>>> Busan Sulap Lahan Basah Jadi Pasar Malam Modern untuk Penggemar BTS
Saat peserta mengetahui bahwa bahasa Shona, bahasa utama Zimbabwe, memiliki frasa yang hampir identik — "Watodya here?" — suasana ruangan berubah.
"Saat kami menemukan bahwa sapaan Korea 'Sudah makan?'