Kesepakatan itu menuai kritik bahkan di jam-jam terakhir.
Perundingan yang lebih luas mengenai isu-isu yang belum terselesaikan seperti program nuklir Iran akan berlanjut dalam 60 hari ke depan, kata dua pejabat senior Pakistan.
Jika kedua belah pihak gagal mencapai resolusi dalam waktu itu, tenggat waktu dapat diperpanjang.
Kesepakatan ini kemungkinan mengembalikan kawasan ke status yang ada sebelum perang, tetapi dengan ribuan orang tewas.
Iran kini memiliki sumber tekanan negosiasi baru dengan kemampuannya memengaruhi pengiriman di selat. Jalur air itu penting bagi pengiriman minyak, gas alam, dan produk terkait seperti pupuk.
>>> Israel Serang Pinggiran Beirut Jelang Kesepakatan AS-Iran
Penutupan efektif selat itu mengguncang ekonomi global.
Dari sasaran yang dinyatakan AS dan Israel saat melancarkan perang pada 28 Februari, Teheran masih memiliki program rudal, dukungan bagi proksi bersenjata, dan stok uranium yang diperkaya tinggi.
Putra Ayatollah Ali Khamenei kini menjadi pemimpin tertinggi, meskipun ia tidak terlihat di publik sejak perang dimulai. Persetujuannya diperlukan agar Iran menandatangani kesepakatan.
Iran menginginkan gencatan senjata mencakup pertempuran di Lebanon, di mana Israel memperdalam invasinya. Teheran juga berupaya membebaskan miliaran dolar dana yang dibekukan.
Kesepakatan yang muncul telah dikritik tajam oleh pemerintah Israel dan kritikus di Partai Republik Trump. Beberapa pihak menilai tidak memperbaiki persyaratan kesepakatan nuklir Iran 2015.
Ada pula friksi di dalam Iran beberapa jam sebelum pengumuman. Pemerintah memperingatkan bahwa perpecahan di dalam negeri melemahkan posisi negosiasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendorong persatuan nasional dan menyebutnya "aib" jika seseorang berdiri di depan parlemen dan menyebut siapa pun yang bernegosiasi sebagai pengkhianat.
Setelah perang dimulai, Iran menyerang Israel dan beberapa negara Teluk Arab dengan rudal dan drone. Gencatan senjata tercapai pada 7 April.