Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran memberikan waktu dua bulan untuk menyelesaikan isu paling krusial: program nuklir Teheran.
Presiden Donald Trump menyebut perang terhadap Iran bersama Israel diluncurkan untuk mencegah Iran memiliki bom nuklir.
>>> Dolar Menguat Jelang Pertemuan Pertama Warsh sebagai Ketua Fed
Namun, kesepakatan awal yang diumumkannya hanya menyisakan sedikit ruang untuk merundingkan masalah yang sudah berlarut-larut ini.
Kesepakatan nuklir sebelumnya antara Iran dan negara-negara besar, yang ditinggalkan Trump pada masa jabatan pertamanya, membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dirundingkan.
Isi Kesepakatan Sementara
Berdasarkan ketentuan awal, Iran akan segera membuka kembali Selat Hormuz untuk pengiriman minyak global dan diizinkan menjual minyak tanpa pembatasan.
Kesepakatan yang akan ditandatangani di Swiss pada Jumat ini juga membayangkan Iran menerima setidaknya 300 miliar dolar AS untuk rekonstruksi pasca-perang.
AS juga akan berupaya mengakhiri semua sanksi Amerika dan PBB terhadap Teheran.
Semua itu berlaku jika kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran tercapai setelah masa perundingan 60 hari dibuka.
Keraguan dari Berbagai Pihak
Skeptisisme mendalam muncul dari anggota parlemen Republik dan Demokrat, pendukung Israel, dan Israel sendiri. Mereka meragukan kesepakatan itu realistis, dapat dilaksanakan, atau akan berpengaruh pada perundingan nuklir.
Senator Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, mengatakan skeptisismenya pada Iran sendiri. "Seperti apa kesepakatan yang baik?
Tidak ada pengayaan. Kita lihat apakah kita bisa sampai di sana," ujarnya.
David Schenker, direktur Program Politik Arab di Washington Institute, meragukan pemerintahan saat ini memiliki kemampuan untuk mencapai kesepakatan nuklir.
>>> Negara G7 Izinkan Produksi Rudal Jarak Jauh di Ukraina
"Ini membutuhkan perhatian penuh, perhatian pada detail, dan banyak pakar teknis," katanya.
