Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan generatif di bidang penerjemahan, kepala Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) justru bertaruh pada masa depan penerjemah manusia.
Presiden LTI Korea, Chon Soo-young, mengatakan bahwa dalam dunia sastra, AI saja tidak dapat memenuhi standar yang diharapkan penerbit internasional tanpa campur tangan manusia.
>>> Min Do-hee Akhiri Kerja Paruh Waktu di Kafe Setelah Setahun
"Bahkan jika model AI yang lebih canggih muncul, penyunting manusia tetap diperlukan untuk meninjau hasil terjemahan," ujarnya dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Kisah Sukses Penerjemah Manusia
Chon mencontohkan pengalaman novelis Kim Un-su, penulis "The Plotters" (2010).
Dalam acara peringatan 30 tahun LTI Korea pada 21 Mei, seorang editor penerbit berbahasa Inggris awalnya tidak tertarik setelah membaca terjemahan karya Kim.
Namun, editor tersebut berubah pikiran setelah meninjau versi terjemahan oleh Sora Kim, seorang penerjemah sastra ternama.
"Yang penting bagi penerbit bukanlah isi novelnya, melainkan apakah Sora Kim yang akan menerjemahkannya," kata Chon.
Rencana Pendirian Sekolah Pascasarjana
Pernyataan ini muncul saat LTI Korea secara resmi mendorong pendirian sekolah pascasarjana khusus penerjemahan sastra dan konten budaya Korea.
Chon mengatakan permintaan global terhadap sastra Korea melonjak dalam beberapa tahun terakhir, namun pasokan penerjemah berketerampilan tinggi tidak seimbang.
"Jika kita berasumsi bahwa kemajuan AI akan mengatasi kekurangan penerjemah dan tidak melakukan apa pun, kita akan kehilangan peluang berharga seperti saat ini," tambahnya.
Tujuan utama pendirian institusi ini adalah mengatasi kelemahan struktural dalam ekosistem penerjemahan Korea saat ini.
Sejak 2008, LTI Korea telah mengoperasikan akademi penerjemahan non-gelar yang menghasilkan lulusan pemenang penghargaan sastra.